Kenapa memulai proyek sering terasa lebih sulit daripada mengerjakannya?
Kadang kita belum mulai bukan karena tidak punya ide, melainkan karena terlalu lama menjalani semua kemungkinan di kepala.
Halaman kosong memiliki cara sendiri untuk mengintimidasi. Ia tidak memberi tahu kita harus menulis apa, membuat apa, atau memulai dari mana.
Tapi mungkin, bagian tersulit dari sebuah proyek memang bukan pekerjaannya. Melainkan keberanian untuk membuat versi pertama yang belum sempurna.
Sebelum mulai, proyeknya sudah berjalan di kepala
Gua sering kepikiran banyak hal sebelum benar-benar mengerjakan sesuatu. Kalau desainnya begini gimana? Kalau nanti ada masalah? Kalau ternyata hasilnya jelek? Kalau sudah selesai, terus siapa yang bakal melihat?
Satu pertanyaan memunculkan pertanyaan lain. Belum ada satu baris kode, satu paragraf, atau satu bentuk kasar yang bisa dilihat, tapi di kepala proyeknya sudah punya banyak cabang dan kemungkinan akhir.
Ada kemungkinan yang bikin semangat. Ada juga yang bikin takut duluan. Lama-lama, gua merasa sudah mengerjakan sesuatu, padahal yang gua kerjakan baru simulasi tentang apa yang mungkin terjadi.
Dan simulasi itu bisa melelahkan. Motivasi yang tadinya muncul karena tertarik pada sebuah ide pelan-pelan habis dipakai untuk membayangkan semua hal yang bisa salah.
Beda merencanakan dan menghabiskan tenaga
Menurut gua, memikirkan kemungkinan tetap ada gunanya. Kita perlu tahu kira-kira apa yang mau dibuat dan langkah awal apa yang masuk akal.
Tapi ada titik ketika rencana tidak lagi membantu kita bergerak. Kita cuma mengulang pertanyaan yang sama dengan versi berbeda, seolah-olah kalau semua kemungkinan sudah dipikirkan, kita bisa mulai tanpa risiko.
Padahal, mungkin yang kita cari bukan rencana yang sempurna. Kita cuma ingin merasa aman sebelum melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan.
Masalahnya, rasa aman itu belum tentu datang sebelum langkah pertama. Kadang justru setelah mencoba, kita baru punya informasi yang cukup untuk tahu apa yang perlu diperbaiki.
Banyak kemungkinan, tapi tetap harus memilih satu
Di tulisan Gua Kadang Memulai Terlalu Banyak Hal, gua cerita tentang bagaimana satu ide bisa bercabang menjadi banyak kemungkinan sampai semuanya terasa menarik. Di sini rasanya ada sisi lain dari kebiasaan yang sama: kemungkinan-kemungkinan itu bukan cuma bikin gua ingin memulai banyak hal, tapi kadang juga membuat gua tidak jadi memulai apa pun.
Kalau semua versi harus dipastikan dulu, kalau semua risiko harus hilang, atau kalau gua harus yakin hasilnya bakal bagus, satu langkah pun bisa terasa seperti keputusan besar.
Padahal, mungkin gua tidak perlu memutuskan seluruh masa depan proyek itu sekarang. Gua cuma perlu memilih satu langkah kecil yang bisa dilakukan hari ini.
Bukan untuk membuktikan bahwa idenya pasti berhasil. Cuma untuk membuatnya berhenti menjadi sesuatu yang sepenuhnya hidup di kepala.
Mungkin memulai bukan soal mengalahkan semua keraguan lebih dulu. Kadang, kita mulai sambil masih ragu—sebelum motivasinya habis dimakan simulasi yang belum tentu terjadi.