Apa Kita Harus Mengalahkan Setiap Masalah?
Tentang membedakan kendali dari kemenangan, dan tetap menentukan arah meski masalah belum benar-benar hilang.
Ketika menghadapi masalah, kita sering menganggap bahwa tujuan akhirnya adalah menyelesaikan masalah tersebut.
Kalau merasa takut, kita harus menghilangkan rasa takut itu. Kalau memiliki kelemahan, kita harus memperbaikinya. Kalau ada sesuatu yang terus mengganggu pikiran, kita harus menemukan cara agar hal itu tidak lagi mengganggu.
Namun, gua mulai berpikir bahwa mengendalikan sesuatu dan mengalahkannya sebenarnya merupakan dua persoalan yang berbeda.
Kendali bukan berarti masalahnya hilang. Kendali berarti masalah itu tidak mengambil kemudi.
Masalahnya belum selesai. Lalu kenapa?
Bagi gua, kendali bukan berarti harus berhasil menghilangkan masalah. Kendali berarti tidak membiarkan masalah tersebut mengambil kemudi kehidupan kita.
Misalnya, seseorang masih memiliki keraguan terhadap dirinya sendiri. Keraguan itu mungkin belum hilang, meskipun ia sudah memahami dari mana pemikiran tersebut berasal.
Namun, apakah keberadaan keraguan itu berarti ia harus berhenti melakukan sesuatu sampai berhasil mengatasinya?
Menurut gua, tidak.
Ia masih bisa merasa ragu sambil tetap mengambil keputusan. Ia masih bisa menyadari kelemahannya sambil terus mengerjakan sesuatu yang dianggap penting.
Masalahnya memang belum selesai, tetapi masalah itu tidak harus menentukan seluruh tindakannya.
Tetap bergerak sambil membawa keraguan
Gua sendiri memiliki kecenderungan untuk meremehkan hasil yang gua buat, terutama ketika menggunakan AI. Gua tahu AI punya peran besar dalam prosesnya, tetapi terkadang pemikiran itu membuat gua melupakan kontribusi diri sendiri.
Gua tidak harus menyangkal peran AI untuk mengakui bahwa gua juga mengambil bagian dalam proses tersebut.
Dan kalau pemikiran yang sama muncul lagi besok, gua tidak harus menganggap bahwa semua usaha sebelumnya gagal.
Mungkin gua masih perlu belajar menghadapinya. Mungkin suatu saat kecenderungan itu akan berkurang. Namun, menghilangkannya bukan satu-satunya cara agar gua tetap bisa menentukan tindakan sendiri.
Melanjutkan hidup bukan hadiah setelah masalah selesai
Gua tidak menganggap mengalahkan masalah sebagai sesuatu yang buruk. Kalau suatu saat berhasil, tentu itu juga merupakan hal yang baik.
Hanya saja, gua tidak ingin menjadikan keberhasilan tersebut sebagai syarat untuk bisa melanjutkan hidup.
Sebab, kalau kendali baru dianggap berhasil setelah semua masalah hilang, bukankah kita justru memberikan terlalu banyak kuasa kepada masalah itu sendiri?
Bagi gua, kendali jauh lebih sederhana.
Masalahnya boleh tetap ada. Gua boleh sesekali kesulitan menghadapinya. Tapi gua tidak harus menyerahkan setiap keputusan dan seluruh arah hidup kepadanya.
Dan untuk sekarang, itu sudah cukup.