Gua Kadang Memulai Terlalu Banyak Hal
Refleksi tentang banyaknya kemungkinan, keinginan mencoba sesuatu yang baru, dan belajar membedakan ide yang menarik dari sesuatu yang benar-benar ingin diselesaikan.
Ada satu pola yang cukup sering gua sadari.
Gua bisa tertarik pada sesuatu dengan cepat.
Awalnya mungkin cuma satu ide sederhana. Namun, setelah dipikirkan sedikit lebih jauh, muncul kemungkinan lain.
“Kalau ini dibuat begini gimana?”
“Kalau dikembangkan ke sini?”
“Kalau ternyata bisa dijadikan bisnis?”
Satu ide berkembang menjadi beberapa ide lain. Sebelum sempat menyelesaikan yang pertama, gua sudah punya sesuatu yang baru untuk dipikirkan.
Masalahnya, waktu gua tetap cuma 24 jam.
Sayangnya, manusia belum menemukan fitur cloning yang stabil. 🗿
Akibatnya, gua kadang punya beberapa proyek yang semuanya menarik, tetapi tidak semuanya selesai.
Dulu gua mungkin akan menganggap ini sebagai masalah disiplin. Gua terlalu mudah tertarik pada sesuatu, terlalu cepat berpindah ke ide lain, lalu meninggalkan pekerjaan yang sebelumnya sudah dimulai.
Ada benarnya juga.
Namun, setelah dipikirkan lagi, gua merasa persoalannya tidak selalu sesederhana kurang disiplin.
Menarik untuk Dicoba Belum Tentu Layak Diteruskan
Ada perbedaan antara tertarik pada sebuah ide dan benar-benar ingin mengerjakannya sampai selesai.
Ketika sebuah ide baru muncul, gua bisa membayangkan banyak hal yang mungkin dibuat darinya. Ada kemungkinan untuk bereksperimen, mencoba pendekatan berbeda, atau bahkan menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Bagian itu menyenangkan.
Namun, membayangkan sesuatu dan mengerjakannya merupakan dua pengalaman yang berbeda.
Ketika masih berupa ide, hampir semua kemungkinan terasa menarik. Kita belum harus berhadapan dengan detail teknis, revisi berulang, keterbatasan kemampuan, atau bagian membosankan yang ternyata ikut datang bersama ide tersebut.
Begitu mulai dikerjakan, barulah kita mengetahui bahwa sesuatu yang menarik untuk dibayangkan belum tentu sama menariknya ketika harus diselesaikan.
Dan di tengah proses itu, ide baru bisa muncul lagi.
Ide baru tersebut menawarkan kemungkinan lain, sementara proyek yang sedang dikerjakan masih membutuhkan waktu dan perhatian.
Pada akhirnya, gua bisa saja meninggalkan sesuatu yang sebenarnya masih layak diteruskan, hanya karena menemukan sesuatu yang lebih menarik untuk dicoba.
Bukan berarti ide baru itu buruk. Bisa saja ide tersebut memang lebih baik.
Namun, ada kemungkinan juga gua hanya tertarik pada sensasi menemukan sesuatu yang baru, bukan benar-benar membutuhkan proyek baru.
Gua rasa, dua hal itu perlu dibedakan.
Tidak Semua Kemungkinan Harus Menjadi Proyek
Salah satu hal yang mulai gua sadari adalah bahwa tertarik pada sesuatu tidak berarti gua harus langsung mengerjakannya.
Sebuah ide bisa menarik tanpa harus dijadikan proyek. Gua bisa mencoba sesuatu untuk mengetahui bagaimana cara kerjanya, lalu berhenti setelah mendapatkan apa yang ingin gua pelajari.
Tidak semua eksperimen harus berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.
Begitu juga dengan ide yang terlihat punya potensi. Kemungkinan untuk menghasilkan sesuatu tidak otomatis berarti gua harus mengejarnya sekarang.
Sebab, setiap kali memulai sesuatu, gua bukan cuma menambahkan satu proyek ke daftar pekerjaan. Gua juga menambahkan kebutuhan akan waktu, perhatian, dan energi.
Sementara itu, hal-hal yang sudah lebih dulu gua mulai tetap membutuhkan semua itu.
Kalau setiap ide baru selalu mendapat kesempatan yang sama untuk dikerjakan, gua akhirnya harus membagi perhatian ke terlalu banyak arah.
Dan ketika semuanya terasa penting, menentukan prioritas justru menjadi semakin sulit.
Mungkin gua tidak perlu berhenti tertarik pada banyak hal. Gua juga tidak harus membatasi diri hanya pada satu bidang atau satu jenis pekerjaan.
Yang perlu gua pelajari adalah membedakan mana yang ingin gua coba, mana yang ingin gua pelajari, dan mana yang benar-benar ingin gua selesaikan.
Ketiganya bisa berawal dari ketertarikan yang sama, tetapi tidak harus berakhir dengan keputusan yang sama.
Memulai Itu Mudah, Memilih untuk Bertahan Lebih Sulit
Gua masih suka mencoba hal baru. Gua juga tidak ingin kehilangan kebiasaan mengeksplorasi ide hanya karena takut terlalu banyak memulai sesuatu.
Namun, gua mulai menyadari bahwa kemampuan memulai bukan satu-satunya hal yang dibutuhkan untuk menghasilkan sesuatu.
Ada saatnya gua perlu menentukan apakah sebuah ide memang layak mendapatkan lebih banyak waktu, atau cukup dijadikan eksperimen yang selesai ketika tujuan awalnya sudah tercapai.
Keputusan itu tidak selalu mudah. Terutama ketika sebuah ide masih terasa menarik dan punya banyak kemungkinan untuk dikembangkan.
Namun, mungkin justru di situlah bagian yang perlu dipelajari.
Bukan sekadar memaksa diri untuk menyelesaikan semua yang sudah dimulai, tetapi juga tidak menganggap setiap hal yang menarik sebagai sesuatu yang wajib dikerjakan.
Gua masih bisa mengeksplorasi banyak kemungkinan tanpa harus menjadikan semuanya sebagai komitmen.
Sebab, pada akhirnya, waktu dan perhatian gua tetap terbatas.
Dan kalau semua ide dianggap penting, akhirnya tidak ada yang benar-benar penting.