02 — TETANGGA
Namanya Rivan Aldira.
Gua tau itu dari papan nama kecil di pintu kamarnya — tipe papan nama yang disediakan manajemen kost untuk semua kamar, yang sebagian besar penghuninya copot di hari pertama karena ngerasa awkward punya nama terpampang di luar kamar sendiri. Rivan nggak copot. Entah karena dia nggak keberatan, atau karena dia nggak pernah mikirin itu.
Gua notice papan nama itu dua hari setelah gua selesai decode cluster baru. Bukan pertama kali gua lewat di depan pintunya — gua udah tinggal di kost ini cukup lama untuk tau layout-nya luar kepala. Tapi baru dua hari itu gua beneran lihat.
Rivan Aldira.
Gua lanjut jalan ke kamar mandi.
Pertemuan pertama kami terjadi tiga hari kemudian, di lorong, jam tujuh pagi.
Gua baru keluar mau ke warung bawah, dia baru masuk dari luar — masih pakai jaket, tangan kanan pegang tumbler, mata yang keliatan seperti orang yang belum tidur tapi bukan tipe belum tidur yang kelelahan. Lebih ke tipe belum tidur yang pikirannya masih jalan.
Gua kenal tipe itu. Gua sering ada di sana.
“Eh,” dia bilang, natural, kayak dua orang yang sering papasan. Padahal ini pertama kalinya kami di satu lorong pada waktu yang sama dan keduanya sadar akan kehadiran yang lain.
“Eh,” gua balas dengan nada yang sama.
Dia masuk kamarnya. Gua lanjut ke tangga.
Dua detik interaksi, nggak ada yang signifikan. Tapi di dua detik itu gua notice satu hal kecil: waktu dia bilang “eh” dan lihat ke gua — ada jeda. Sangat pendek. Mungkin setengah detik. Tapi di setengah detik itu matanya nggak langsung ke gua. Dia lihat ke titik di sekitar gua dulu, baru kemudian ke gua.
Tipe jeda yang gua kenal dari orang yang lagi proses lebih dari satu hal di saat yang bersamaan.
Oh, gua pikir.
Gua lanjut ke tangga.
Minggu pertama setelah pertemuan lorong, kami papasan tiga kali lagi.
Sekali di depan kamar mandi pagi-pagi, sekali di tangga sore hari, sekali di depan pintu kost malam waktu gua baru balik dari minimarket dan dia baru keluar mau pergi. Setiap kali interaksinya singkat — nod, “eh”, kadang satu kalimat soal hal paling netral yang available: cuaca, lift yang lagi rusak di lantai atas, warung bawah yang tutup lebih awal dari biasanya.
Dari empat interaksi itu, gua kumpulkan beberapa observasi yang gua nggak catat di mana pun — cukup di kepala, karena belum ada yang cukup significant untuk perlu didokumentasikan:
Rivan tipe orang yang comfortable dengan silence. Dia nggak rush untuk ngisi keheningan dengan smalltalk yang nggak perlu. Itu bukan introversion atau anti-sosial — lebih ke efisiensi. Dia ngomong kalau ada yang perlu diomongkan.
Cara dia dengerin orang bicara: matanya di orang itu, tapi ada bagian dari perhatiannya yang gua nggak bisa pinpoint ada di mana. Bukan distracted — lebih ke processing secara paralel.
Tangannya hampir selalu pegang sesuatu. Tumbler, hp, kunci kamar. Bukan nervous habit — lebih ke anchor. Tipe orang yang butuh sesuatu yang konkret untuk dipegang waktu pikirannya lagi jalan di tempat lain.
Observasi-observasi kecil yang berdiri sendiri, belum membentuk pattern yang conclusive.
Oh, dan gua lanjut ke hal lain.
Hari kedelapan, Rivan yang mulai duluan.
Gua lagi duduk di teras kost — area kecil di depan yang jarang dipakai penghuni lain, biasanya cuma gua yang sesekali duduk di sana sore hari kalau butuh keluar dari kamar tanpa beneran keluar. Gua bawa laptop, lagi di tengah sesuatu yang butuh konsentrasi tapi nggak butuh internet.
Rivan keluar, lihat gua, dan bukannya langsung jalan ke gerbang, dia berhenti.
“Boleh?” dia tunjuk kursi plastik di sebelah gua.
“Silakan.”
Dia duduk. Keluarkan hp, mulai scroll sesuatu. Nggak ngomong apa-apa.
Sepuluh menit lewat dalam diam yang nggak awkward. Gua lanjut kerja, dia lanjut scroll. Ada sesuatu yang comfortable dari situasi itu — dua orang yang nggak ngerasa perlu ngisi waktu bersama dengan interaksi kalau memang nggak ada yang perlu diinteraksikan.
Gua notice itu. Dan gua notice bahwa gua notice itu dengan cara yang sedikit berbeda dari cara gua notice hal-hal tentang orang lain biasanya.
Familiar. Terlalu familiar.
“Lo kerja dari rumah?” Rivan tanya akhirnya, tanpa lihat dari hp-nya.
“Belum kerja,” gua jawab. “Lagi nyari.”
Dia nod. “Fresh grad?”
“Tujuh bulan yang lalu.”
“Hmm.” Dia taruh hp di pangkuan. “Gua juga sempet nganggur empat bulan sebelum dapat yang sekarang. Worse feeling ever.”
“Yang paling berat bagian mana?”
Dia pikir sebentar. Bukan jeda yang nyari jawaban sopan — jeda yang genuinely mikir. “Ngerasa kayak waktu jalan tapi lo nggak,” katanya akhirnya. “Semua orang kayak bergerak dan lo stuck di satu titik nonton.”
Gua nod.
“Sekarang udah nggak ngerasa gitu?” gua tanya.
Dia lihat ke halaman depan kost — pohon kecil yang daunnya udah mulai kuning di beberapa bagian, motor-motor yang diparkir rapi. “Mostly,” katanya. “Tapi kadang masih.”
Satu kata. Mostly. Dengan jeda sebelum tapi kadang masih yang panjangnya pas untuk jadi batas antara jawaban yang dia kasih ke orang yang baru dia kenal dan jawaban yang lebih lengkap yang dia simpan.
Gua tau jeda itu. Gua pake jeda yang sama.
Arvan lanjutkan pekerjaannya di laptop. Di sebelahnya Rivan kembali ke hp-nya.
Tapi di kepala Arvan ada sesuatu yang sedang di-register dengan cara yang berbeda dari observasi-observasi sebelumnya — bukan karena lebih signifikan secara individual, tapi karena untuk pertama kalinya ada dua observasi yang berhadapan satu sama lain dan menghasilkan sesuatu yang nggak bisa dia resolve dengan mudah:
Rivan punya gap yang mirip dengan gap-gap yang ADMIN gunakan.
Dan Rivan juga punya cara bicara yang terasa seperti gua sedang dengerin diri sendiri dari sudut yang sedikit berbeda.
Dua hal itu bisa berarti banyak. Atau bisa berarti satu hal yang spesifik.
Arvan belum tau yang mana. Dan dia cukup sabar untuk nggak memutuskan sebelum ada lebih banyak data.
Dua hari kemudian, malam, gua dengar sesuatu yang bikin gua berhenti scroll.
Bukan suara yang aneh — suara keyboard dari kamar Rivan, ritme yang udah familiar. Tapi di tengah ritme itu ada jeda yang berbeda dari jeda-jeda biasanya. Lebih panjang. Lalu ketika mulai lagi, temponya berubah — bukan akselerasi yang flowing, tapi lebih ke tipe ngetik orang yang lagi nulis sesuatu yang dia pikirin keras sebelum tiap kata.
Gua dengerin tanpa sengaja selama mungkin dua menit.
Lalu berhenti.
Lalu mulai lagi dengan ritme yang sama sekali berbeda dari sebelumnya — cepat, nggak ada jeda, tipe ngetik yang pure eksekusi tanpa pikiran di antaranya.
Gua taruh hp gua yang udah gua pegang tanpa baca apapun.
Oh.
Ada sesuatu yang terjadi di kamar itu yang Rivan lagi proses. Sesuatu yang bikin dia tulis pelan, lalu berhenti, lalu tulis cepat dengan cara yang terasa kayak keputusan yang udah dibuat setelah terlalu lama ditunda.
Gua nggak tau apa. Dan gua nggak perlu tau malam ini.
Gua taruh hp, matiin lampu.
Tapi sebelum tidur, gua ambil notes dan tulis satu baris — bukan analisis, bukan hipotesis. Cuma timestamp dan satu kata:
22.47 — ketukan.
Seminggu kemudian, gua decode satu simbol lagi dari mapping bahasa ADMIN yang udah gua kumpulkan sejak Volume 1 — bukan dari cluster baru, tapi dari teks utama interface yang selama ini gua analisis secara terpisah.
Simbol yang frekuensinya medium — bukan yang paling sering, bukan yang paling jarang. Yang posisinya selalu di antara dua cluster lain, tapi dengan spacing yang sedikit lebih besar dari spacing internal cluster itu sendiri.
Gua udah assign simbol ini sebagai transisi atau jembatan beberapa bulan lalu — makna yang masuk akal secara struktural tapi yang selalu terasa belum complete.
Kali ini gua coba approach dari arah yang berbeda: bukan tanya apa fungsinya tapi tanya apa yang ada sebelum dan sesudahnya di setiap kemunculannya.
Dan dari dua puluh tiga sample kemunculan yang gua punya — ada pola yang gua miss karena selama ini gua fokus ke simbol itu sendiri dan bukan ke konteksnya:
Simbol itu selalu muncul setelah sesuatu yang gua tentatif baca sebagai subjek dan sebelum sesuatu yang gua tentatif baca sebagai kondisi.
Bukan transisi. Bukan jembatan.
Adalah.
Simbol itu artinya adalah.
Gua taruh pulpen dan baca ulang beberapa fragmen yang punya simbol itu dengan makna baru.
Hasilnya masih partial — terlalu banyak simbol lain yang belum gua decode untuk bisa baca kalimat penuh. Tapi ada satu fragmen pendek dari interface tiga minggu lalu yang tiba-tiba punya bentuk:
[sesuatu] adalah [sesuatu yang dekat].
Atau kalau gua overlay dengan decode cluster baru:
[sesuatu] adalah [dekat. ada. sekarang.]
Gua stare ke kertas itu.
Lalu gua lirik ke dinding kanan.
Oh, gua pikir, dengan cara yang berbeda dari semua oh sebelumnya — lebih berat, lebih settled, lebih seperti sesuatu yang udah lama gua tau tapi baru sekarang bisa gua tulis dengan huruf yang jelas.
Gua lipat kertasnya. Taruh di bawah keyboard.
Besok pagi, gua akan ketok pintu kamar Rivan Aldira dan nanya apakah dia mau sarapan bareng di warung bawah.
Bukan karena gua harus. Tapi karena itulah cara paling natural untuk memulai sesuatu yang gua tau akan butuh waktu yang nggak bisa di-rush.