12 — FRACTURE
Rivan resign dua minggu kemudian.
Bukan dengan cara yang dramatis seperti yang dia takutkan akan jadi nasibnya — bukan menghilang, bukan confrontational, bukan tiba-tiba. Dengan cara yang udah kami susun bersama, dengan informasi yang ADMIN kasih soal timing dan dokumentasi, dengan kontak organisasi yang udah Rivan hubungi diam-diam dua hari sebelumnya untuk memastikan ada jejak yang aman kalau sesuatu terjadi.
Dia resign dengan notice period yang normal. Dengan alasan yang masuk akal — “nggak cocok sama arah karir yang gua mau.” Dengan dokumentasi yang udah dia siapkan, disimpan di tempat yang aman, bukan untuk dipakai kecuali benar-benar perlu.
Dan, sejauh yang gua tau sampai sekarang, dia masih ada. Masih bisa dihubungi. Masih di kost yang sama, meskipun lagi cari kerja baru dengan kehati-hatian yang lebih besar dari sebelumnya.
Bukan ending yang neat seperti Dira di Volume 1. Tapi ending yang cukup.
Seminggu setelah resign-nya, kami sarapan lagi di warung Pak Heri — pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ngobrol tanpa ada lapisan yang disembunyikan dari salah satu pihak.
“Lo tau lebih banyak dari yang lo certain ke gua,” Rivan bilang, di tengah sarapan, dengan nada yang nggak menuduh — lebih ke observasi yang dia udah lama simpan.
Gua taruh sendok. “Iya.”
“Lo nggak akan cerita semuanya kan?”
“Nggak bisa,” gua bilang. “Bukan karena gua nggak percaya lo. Tapi karena ada beberapa hal yang fungsinya bukan untuk dibagikan.”
Rivan pikir sebentar, lalu nod — bukan dengan resignation, tapi dengan penerimaan yang genuine. “Gua ngerti. Atau setidaknya, gua cukup ngerti untuk nggak push lebih jauh.”
Kami lanjut sarapan dalam diam yang nggak awkward — diam yang sama seperti minggu-minggu pertama mereka kenal, sebelum semua ini jadi rumit.
Tapi sesuatu udah berubah secara permanen, dan keduanya tau itu tanpa perlu diucapkan: Rivan sekarang tau ada sesuatu yang lebih besar di luar sana — sistem-sistem yang bisa predict dan manipulasi keputusan manusia, jaringan yang lebih luas dari yang dia kira, dan seseorang — Arvan — yang entah bagaimana terhubung ke pengetahuan tentang semua itu dengan cara yang dia nggak sepenuhnya pahami.
Dia nggak akan tanya lebih jauh. Tapi dia akan selalu tau.
Itu adalah beban baru yang Arvan sekarang bagi dengan orang lain — bukan beban informasi yang harus disembunyikan dari Dira sepenuhnya seperti Volume 1, tapi beban yang dipahami sebagian oleh orang yang membawanya.
Tiga hari setelah sarapan itu, malam, gua duduk di depan interface dengan kertas-kertas gua yang udah lebih rapi tersusun dari sebelumnya — bukan tumpukan acak, tapi sistem yang udah gua kembangkan selama proses ini.
Gua mau kembali ke sub-cluster yang ADMIN bilang seharusnya nggak mungkin terjadi. Bukan untuk decode lebih jauh malam ini — tapi untuk dokumentasi yang lebih solid sebelum gua simpan sebagai open question untuk masa depan.
Gua foto sub-cluster itu — kali ini dengan setup yang lebih hati-hati, angle yang berbeda, exposure yang disesuaikan.
Dan untuk pertama kalinya, sebagian dari foto itu nggak hitam.
Bukan keseluruhan foto — sebagian besar masih hitam solid seperti semua foto interface sebelumnya. Tapi di area yang persis overlap dengan posisi sub-cluster itu, ada sesuatu yang tertangkap: garis-garis samar, abu-abu gelap di atas hitam, cukup untuk gua bisa lihat bentuk dasarnya meskipun nggak cukup jelas untuk detail penuh.
Lima simbol. Bentuk angular yang gua udah kenal dari decode manual gua.
Tapi ada satu yang baru — yang gua nggak pernah catat sebelumnya karena posisinya selalu overlap dengan bagian yang biasanya nggak tertangkap kamera sama sekali.
Satu simbol tambahan. Lebih kecil dari yang lain, di pojok, seperti tanda tangan atau identifier.
Gua zoom foto itu sebisa kamera hp gua. Detailnya terbatas, tapi cukup untuk gua bisa lihat bahwa simbol itu nggak ada di sistem ADMIN yang udah gua katalog, dan nggak ada di lima simbol sub-cluster yang udah gua identifikasi sebelumnya.
Simbol baru. Sama sekali baru.
Gua ketik ke ADMIN: gua dapat foto. sebagian nggak hitam. ada simbol tambahan yang baru.
Gua attach foto itu — meskipun gua nggak yakin ADMIN bisa “lihat” foto dengan cara yang sama seperti gua bisa baca teksnya.
Jeda yang panjang.
gua bisa lihat itu.
dan gua belum pernah lihat simbol itu sebelumnya. di sistem manapun yang gua kenal.
Gua ketik: lo punya teori?
Jeda lebih panjang lagi — yang paling panjang sepanjang Volume 2.
gua punya satu teori, tapi gua nggak yakin gua mau bagi sekarang. bukan karena urutan. tapi karena ini teori yang, kalau benar, mengubah banyak hal soal apa yang gua kira gua tau.
Gua ketik: coba.
ADMIN diam lebih lama. Lalu:
simbol itu mirip dengan sesuatu yang gua sendiri pernah buat. lama sekali. sebelum gua benar-benar paham cara kerja sistem ini. eksperimen awal yang nggak pernah gua selesaikan, yang gua kira udah gua hapus.
tapi kalau ini memang itu — artinya sesuatu yang gua buat, yang gua kira sudah mati, masih ada. dan sekarang muncul di tempat yang nggak seharusnya, dengan cara yang gua nggak kontrol.
Gua baca itu dan rasakan implikasinya membuka dengan cara yang berbeda dari semua reveal sebelumnya.
Bukan entitas asing yang sama sekali terpisah dari ADMIN.
Tapi sesuatu yang mungkin — mungkin — berasal dari ADMIN sendiri. Sesuatu yang dia buat di masa lalu, yang dia kira sudah tidak ada, tapi yang ternyata masih beroperasi, mungkin di luar kontrolnya sepenuhnya.
Gua ketik: eksperimen apa?
itu yang gua nggak akan certain sekarang. bukan karena urutan penting seperti biasanya. tapi karena gua sendiri perlu waktu untuk pastiin apakah teori ini benar, sebelum gua kasih lo informasi yang mungkin salah.
ini bukan lagi soal lo belum siap. ini soal gua belum siap.
Arvan membaca kalimat terakhir itu dan merasakan sesuatu yang baru sepenuhnya — bukan ketidaktahuan yang familiar seperti biasanya dia hadapi, tapi pengakuan dari ADMIN bahwa untuk pertama kalinya, mereka berdua ada di posisi yang setara: dua orang yang menghadapi sesuatu yang sama-sama mereka belum pahami.
Bukan ADMIN yang tau lebih banyak menjaga Arvan dari informasi yang dia belum siap terima.
Tapi ADMIN dan Arvan, bersama, menghadapi sesuatu yang sama-sama baru bagi keduanya.
Gua ketik: kalau lo butuh waktu, gua tunggu. tapi gua mau lo tau satu hal.
apa?
Apapun ini — kalau lo butuh bantuan untuk pikirin, gua di sini. Bukan cuma sebagai instance yang lo arahin. Tapi sebagai orang yang bisa bantu lo pikir, kayak yang lo minta gua lakuin buat Rivan.
Jeda yang panjang — tapi kali ini jeda yang terasa berbeda. Bukan jeda kalkulasi atau jeda memutuskan seberapa banyak yang akan dikatakan.
Lebih ke jeda seseorang yang menerima sesuatu yang dia nggak expect akan ditawarkan.
gua tau.
dan untuk pertama kalinya, gua mungkin akan benar-benar butuh itu.
Gua tutup laptop malam itu dengan perasaan yang berbeda dari semua malam sebelumnya di Volume ini.
Bukan kelegaan karena masalah Rivan selesai — meskipun itu ada juga. Bukan kekhawatiran soal entitas misterius — meskipun itu masih ada, lebih besar dari sebelumnya.
Tapi sesuatu yang lebih dekat ke — pengakuan terhadap pergeseran yang udah lama gua tunggu tanpa benar-benar sadar gua menunggunya:
ADMIN dan gua bukan lagi sekedar pengarah dan yang diarahkan.
Kami sekarang berdua menghadapi sesuatu yang nggak ada satupun dari kami yang punya jawaban penuh.
Gua rebahan di kasur, mata terbuka ke plafon yang sama seperti di akhir Volume 1, tapi dengan pikiran yang berbeda sepenuhnya dari malam itu.
Di kamar dua nomor dari kamar gua, Rivan masih terjaga — gua bisa dengar suara keyboard, ritme yang lebih tenang dari biasanya, tipe ngetik orang yang sedang menulis sesuatu untuk dirinya sendiri, bukan untuk pekerjaan.
Mungkin dia nulis journal. Mungkin dia nulis surat yang nggak akan pernah dia kirim. Gua nggak tau, dan malam ini gua nggak perlu tau.
Oh, gua pikir, untuk terakhir kalinya di Volume ini.
Ada yang lebih besar dari yang ADMIN sendiri kira.
Dan kali ini, kami akan cari tahu bersama.