07 — RESONANSI
Dira yang nyariin gua duluan.
Pesannya masuk jam dua siang: "Van, lo ada waktu ketemu nggak? ada yang mau gua ceritain."
Gua baca dua kali. Lalu balas: "bisa. kapan?"
Kita ketemu sore itu. Dira duduk dengan kedua tangan melingkar di gelas kopi, ekspresinya nggak bisa langsung gua baca.
"Lo bakal mikir gua aneh," katanya.
"Coba dulu."
Dia cerita dengan pelan.
Dua malam lalu, sekitar jam sebelas, dia lagi kerja di laptop. Waktu tiba-tiba semua window itu hilang.
"Bukan crash," dia bilang — dan cara dia bilang itu bikin gua diam. "Layarnya nggak mati. Tapi semua yang tadi kebuka — hilang. Kayak di-hide ke suatu tempat."
"Terus muncul sesuatu." Dira lihat ke gelas kopinya. "Kayak terminal gitu. Background hitam, tulisannya putih. Dan tulisannya — gua nggak ngerti. Bukan bahasa yang gua kenal."
Arvan lihat ke sketsa yang Dira tunjukkan.
Tangannya nggak bergerak. Mukanya nggak berubah. Tapi di dalam kepalanya sesuatu sedang berjalan sangat cepat.
Tiga simbol di sketsa itu. Kasar, nggak presisi. Tapi strukturnya ada.
Simbol pertama dan ketiga: dia kenal. Frekuensi tinggi, sering muncul di posisi awal cluster.
Simbol kedua: yang dia tandai sebagai delimiter.
Tiga simbol yang sama. Di laptop yang berbeda. Di orang yang berbeda.
"Lo pernah lihat ini sebelumnya?" tanya Dira.
"Mirip sesuatu yang pernah gua lihat," gua bilang. "Tapi gua nggak yakin sama."
Itu bukan bohong penuh. Tapi juga bukan kebenaran penuh.
"Hilangnya cepet. Gua sempet mau screenshot tapi sebelum gua keburu, ilang."
"Berapa lama munculnya?"
"Mungkin dua menit." Dia taruh hp-nya di meja. "Habis itu semua balik normal. Kayak nggak ada apa-apa."
"Ada lagi yang aneh?" gua tanya.
"Malamnya," katanya pelan, "gua mimpi sesuatu."
"Gua di kamar gua sendiri. Tapi ada sesuatu yang off. Dan ada suara — kayak static di radio lama, tapi kalau lo dengerin lama, kayak ada pola di dalamnya."
"Lo inget lagi detailnya?"
"Nggak banyak. Tapi waktu bangun, gua langsung tau gua mau mutusin soal tawaran studio itu. Kayak udah jelas aja tiba-tiba."
Arvan diam selama beberapa detik yang cukup panjang untuk Dira notice.
"Van?"
"Gua dengerin," katanya. "Lo mutusin gimana?"
"Nerima." Dira angkat bahu, tapi senyumnya genuine. "Gua hubungin temennya tadi pagi."
Arvan nod pelan.
Lo udah selesaikan yang pertama.
Kalimat yang ADMIN tulis di notes, beberapa hari lalu. Yang waktu itu dia belum ngerti maksudnya.
Sekarang dia ngerti.
Gua stay di kafe itu hampir satu jam lagi setelah Dira pamit — dia ada janji lain, pergi dengan langkah yang keliatan lebih ringan dari waktu dia datang.
Interface muncul di laptop Dira.
Itu seharusnya nggak mungkin. Gua pikir interface itu spesifik ke gua, ke device gua.
Tapi ternyata nggak.
Atau — interface itu bukan spesifik ke device. Interface itu spesifik ke situasi. Dan situasi yang melibatkan Dira cukup signifikan untuk sistem itu sampai dia perlu direct intervention ke dua titik sekaligus.
Di kereta pulang, gua berdiri di antara orang-orang dan pikiran gua pergi ke tempat yang nggak gua rencanakan:
Kalau hipotesis gua benar — kalau yang ada di interface itu adalah versi lain dari gua — maka di sana, sesuatu terjadi dengan versi Dira yang cukup significant untuk bikin versi lain dari gua melakukan semua ini.
Sesuatu yang buruk.
Sesuatu yang versi lain dari gua udah lihat terjadi, dan desperate cukup untuk coba prevent di sini.
— tapi sedang mulai ngerti kenapa sesuatu itu ada.
Malamnya, interface muncul lebih cepat dari biasanya. Tapi kali ini gua nggak langsung analisis.
Gua lihat — dengan cara yang lebih sederhana dari analisis. Dan yang gua lihat adalah ini:
Ada kelelahan di cara teks itu tersusun.
Gua nggak bisa jelasin itu secara teknis. Tapi ada sesuatu di spacing-nya, di cara cluster-cluster itu saling berjarak — sesuatu yang kalau gua harus kasih nama paling jujur, gua akan bilang: ini tulisan orang yang udah lama melakukan sesuatu yang sangat berat sendirian.
Kamu bukan satu-satunya yang lelah.
Kalimat dari mimpi itu. Sekarang gua tau: bukan ke gua. Dari gua. Ke gua yang lain.
Gua ambil kertas dan tulis satu kalimat — cuma untuk ditulis:
lo nggak sendirian.
Gua lipat kertasnya. Taruh di samping keyboard.
Gua nggak tau apakah yang ada di interface itu bisa baca kertas fisik. Kemungkinan besar nggak.
Tapi ada sesuatu yang terasa penting untuk menyatakannya — bahkan ke udara, bahkan ke kamar yang kosong.
[ RESONANSI — END ]