04 — LOG
Gua mulai bikin sistem.
Bukan karena gua tau apa yang sedang terjadi — justru sebaliknya. Gua bikin sistem karena itu satu-satunya hal yang bisa gua lakuin ketika gua nggak tau apa yang sedang terjadi. Kalau nggak bisa pahami sesuatu langsung, rekam dulu. Kumpulkan data. Cari pattern. Pattern selalu ada — gua cukup percaya itu.
Spreadsheet pertama gua buka jam tujuh pagi, sebelum kopi, sebelum gua ngecek apakah interface masih ada di layar atau nggak.
Kolomnya: Tanggal. Waktu. Kejadian. Kategori. Korelasi yang mungkin. Catatan tambahan.
Waktu gua selesai dan baca ulang dari atas, ada sesuatu yang langsung keliatan.
Interface selalu aktif sebelum sesuatu terjadi. Bukan sesudah, bukan bersamaan. Selalu sebelum — kayak sistem yang loading sesuatu terlebih dahulu sebelum eksekusi.
Gua tulis di kolom catatan: interface = precursor, bukan response.
Precursor. Artinya ada yang merencanakan. Ada yang tau apa yang akan terjadi sebelum terjadi.
Sore harinya gua lakuin sesuatu yang harusnya gua lakuin dari awal: gua cek log sistem operasi.
Event Viewer di Windows nyimpen record hampir semua yang terjadi di sistem. Butuh empat puluh menit sebelum gua nemuin sesuatu.
Di antara ratusan entri rutin, ada satu entri yang formatnya berbeda. Source-nya kosong. Event ID-nya nol. Timestampnya tepat tiga menit sebelum interface pertama kali muncul. Description-nya satu baris:
instance initialized.
Arvan nggak bergerak selama beberapa detik.
Instance initialized.
Dua kata dalam bahasa Inggris yang sangat teknis, sangat spesifik. Instance adalah objek yang dibuat dari sebuah class. Initialized artinya proses pembuatan itu selesai dan objek siap digunakan.
Dalam konteks komputer, kalimat itu artinya: sesuatu telah dibuat dan siap berjalan.
Tapi dalam konteks apa ia dibuat — dan siapa yang membuatnya — log itu tidak menjawab.
Gua screenshot Event Viewer itu dua belas kali — dan memang, delapan dari dua belas berhasil. Bukan foto hitam kali ini.
Perbedaannya langsung gua catat: interface itu sendiri nggak bisa di-screenshot. Tapi jejak kehadirannya di log sistem bisa. Artinya ada layer — layer yang visible secara normal, dan layer yang tidak.
Jam enam sore gua rebahan di kasur dan biarkan pikiran jalan tanpa arah.
Sesuatu yang bisa masuk ke sistem gua tanpa detectable footprint. Sesuatu yang bisa tau gua akan ketemu Dira sebelum gua sendiri tau. Sesuatu yang meninggalkan pesan dalam bahasa yang nggak ada di bumi ini, tapi sesekali menggunakan bahasa Indonesia dengan pilihan kata yang sangat deliberate.
Sesuatu yang sangat paham cara sistem bekerja. Dan sangat paham cara gua bekerja.
Terlalu paham.
Gua duduk lagi. Buka spreadsheet. Scroll ke atas, baca semua dari awal.
Gap-gap di awal — kopi, cucian, jendela — semuanya adalah hal-hal yang logis untuk dilakukan. Nggak ada satupun yang random atau harmful. Semuanya adalah keputusan yang gua sendiri pada akhirnya akan buat, cuma mungkin di waktu yang berbeda.
Kayak sesuatu yang mempercepat keputusan yang udah ada.
Bukan mengontrol. Lebih ke — mengarahkan.
Gua tulis di catatan dengan tangan:
hipotesis: bukan mengendalikan. mengarahkan. ada perbedaan. yang mengendalikan tidak peduli apakah kamu setuju. yang mengarahkan butuh kamu bergerak sendiri ke titik yang dituju.
pertanyaan: kenapa butuh caraku sendiri? kenapa tidak langsung?
Malam itu, gua buka notes di hp untuk update log harian.
Dan gua lihat sesuatu yang bikin tangan gua berhenti di atas layar.
Di antara catatan-catatan yang gua ingat nulis, ada satu entri yang gua nggak ingat nulis. Timestampnya tiga hari lalu, jam dua pagi — waktu di mana gua pasti udah tidur.
sistemnya konsisten. terlalu konsisten. ini bukan kebetulan dan bukan gangguan. ini designed. pertanyaannya bukan apa ini tapi siapa yang ngedesainnya dan untuk apa. gua rasa gua udah tau jawabannya tapi belum mau nulis.
Gua baca tiga kali.
Gayanya seperti gua. Cara berpikirnya seperti gua. Bahkan tanda bacanya persis seperti cara gua nulis di notes waktu lagi mikir keras.
Tapi gua nggak ingat menulisnya.
Arvan letakkan hp-nya menghadap ke bawah di atas kasur.
Ada dua kemungkinan. Satu: dia menulis ini dalam kondisi setengah tidur. Dua: sesuatu yang bisa masuk ke sistem komputernya juga bisa masuk ke hp-nya. Dan sesuatu itu menulis dengan suaranya.
Kedua kemungkinan itu sama-sama uncomfortable dengan cara yang berbeda.
Gua ambil hp lagi. Taruh kursor di bawah entri itu dan mulai ketik:
oke. kalau lo tau — tulis.
Gua simpan. Taruh hp di meja, layar menghadap atas.
Jam dua belas kurang, sebelum gua matiin lampu, gua cek hp satu kali lagi. Notes masih sama. Nggak ada tambahan.
Gua matiin lampu.
Tapi jam dua lebih, hp di meja bergetar sekali. Bukan notifikasi. Bukan telpon. Satu getaran pendek, kayak konfirmasi.
Gua nggak ambil hp-nya.
Ada sesuatu malam itu — sesuatu yang gua nggak punya nama pastinya, yang bukan takut tapi berdekatan dengan itu — yang bikin gua memilih untuk pura-pura nggak dengar dan tutup mata lagi.
Besok paginya, gua ambil hp. Buka notes.
Di bawah kalimat gua semalam ada satu baris baru. Timestampnya 02.14 pagi.
Tulisannya pendek. Tujuh kata. Bukan gaya nulis gua — terlalu padat, terlalu tanpa konteks, kayak seseorang yang udah lama nggak pakai bahasa ini dan memilih kata dengan sangat hati-hati:
kamu adalah kamu yang paling mungkin berhasil
Gua duduk di tepi kasur, hp di tangan, dan baca kalimat itu berulang kali.
Kamu adalah kamu.
Bukan lo adalah orang yang tepat. Tapi kamu adalah kamu — konstruksi yang aneh, yang redundant kalau dibaca secara literal, tapi yang punya implikasi sangat spesifik:
Ada lebih dari satu kamu.
Dan yang ini adalah yang dianggap paling mungkin berhasil.
— tapi bahwa sesuatu itu sedang sangat sadar bahwa gua akhirnya mulai mengerti.
[ LOG — END ]