05 — DIRA
Gua nyari Dira dengan cara yang paling nggak suspicious yang bisa gua pikirkan: gua DM dia di Instagram, bilang gua kebetulan inget ada film dokumenter yang dulu pernah dia rekomendasiin waktu di kepanitiaan.
Itu bohong. Gua nggak ingat dia pernah rekomendasiin film apapun.
Tapi gua butuh alasan untuk ketemu yang nggak bikin dia nanya kenapa.
Dira bales dalam dua jam: "haha aduh gua juga lupa judulnya, yang tentang laut kan? mending ketemuan aja biar bisa gua cariin di playlist."
Gua stare ke balasannya beberapa detik. Dia yang ngajuin ketemuan. Bukan gua.
Kita ketemu dua hari kemudian di kafe yang Dira pilih. Dira udah di sana waktu gua datang, duduk di pojok dengan laptop terbuka. Dia tutup laptop waktu gua duduk.
"Filmnya ketemu," katanya langsung. "Judulnya Seaspiracy. Lo udah nonton?"
"Belum."
"Bagus. Agak disturbing sih tapi bagus."
Satu jam pertama berjalan dengan cara yang sangat normal. Kita ngobrol soal film, soal kerjaan Dira yang belakangan lumayan ramai, soal satu teman lama yang rupanya sekarang kerja di luar negeri.
Di dalam kepala gua ada dua layer yang berjalan bersamaan: satu layer yang merespons dan ngobrol — dan satu layer yang observe, catat, cari sesuatu yang mungkin confirm atau deny hipotesis yang udah gua bangun.
Layer kedua itu notice hal-hal berikut:
Dira minum kopinya terlalu cepat untuk ukuran orang yang menikmati ngobrol santai. Dua kali dia mulai kalimat lalu pivot ke arah yang berbeda sebelum selesai. Dan waktu gua nggak sengaja mention soal rencana ke depan, ada sesuatu yang lewat di mukanya. Cepat. Tapi ada.
Dua jam masuk, percakapannya natural shift ke arah yang lebih personal.
Dira cerita soal satu project yang lagi dia handle — klien yang susah dikomunikasiin, deadline yang mepet, dan perasaan bahwa dia udah lama nggak beneran menikmati kerjaan yang dulu dia genuinely suka.
"Kadang gua mikir," katanya, "apakah gua salah milih jalan."
"Maksudnya?" gua tanya.
"Ya gitu. Kayak ada titik-titik di mana lo ngerasa ini harusnya beda. Tapi lo juga nggak tau bedanya harusnya kayak gimana."
"Lo lagi ngerasa itu sekarang?"
Dia diam sebentar. "Udah lumayan lama sih sebenernya."
Arvan perhatikan cara Dira bilang itu — bukan dengan sedih yang dramatic, tapi dengan nada seseorang yang udah lama berdamai dengan sesuatu yang sebenernya belum selesai. Tipe exhaustion yang nggak keliatan dari luar karena orangnya udah terlalu terbiasa menyimpannya di dalam.
Ini yang dia notice di warung kopi pertigaan. Yang waktu itu dia pikir mungkin overfitting.
Ternyata bukan.
"Ada tawaran," katanya akhirnya. "Dari temen lama — dia lagi bangun studio kecil, butuh partner. Tapi itu artinya gua harus all-in." Dia pause. "Dan kalau gagal, ya gagal beneran."
"Lo takut gagalnya?"
"Gua takut nyesel kalau nggak nyoba." Dia lihat gua. "Beda kan?"
Gua pikir sebentar. "Iya. Beda."
Waktu gua mau pamit, dia bilang: "Eh, makasih ya. Gua jarang ngobrol kayak gini sama orang."
Di luar kafe, gua tulis di notes: Dira — ada sesuatu yang berat yang dia simpen. Tawaran studio — dia ragu, belum mutusin.
Malamnya, interface aktif. Isinya lebih panjang dari sebelumnya.
Tiga puluh menit masuk, gua notice satu cluster di kuadran kanan atas yang strukturnya berbeda. Dan di dalamnya, tiga simbol yang posisinya corresponded dengan simbol-simbol yang gua hipotesiskan sebagai function words — tapi di sini ketiganya muncul berurutan, mengapit empat simbol lain.
Nama.
Tiga simbol itu mengapit sesuatu. Dan yang diapit adalah nama.
Jam sebelas malam, satu baris baru muncul di bagian bawah interface:
⌇⌇△◈ putuskan ◈▽⌇⌇
Gua baca kata itu berulang kali.
Putuskan.
Bukan perintah yang ditujukan ke gua. Lebih ke sesuatu yang sedang dibicarakan dalam konteks yang lebih besar.
Tapi gua ingat percakapan sore tadi. Dira dan tawaran studio yang belum dia putuskan.
Arvan taruh pulpen-nya.
Ini bukan lagi kebetulan yang bisa dia rasionalisasi. Sesuatu di interface itu sedang membicarakan Dira. Dan sesuatu itu tahu tentang keputusan yang bahkan Dira sendiri belum buat.
Gua tambah kolom baru di spreadsheet: Hal yang diketahui interface sebelum gua tau.
Entri pertama: pertemuan dengan Dira — interface kasih sinyal sebelum gua keluar.
Entri kedua: keputusan Dira soal studio — interface mention "putuskan" malam setelah Dira cerita dia belum mutusin.
Lalu gua tambah satu baris catatan:
kalau sesuatu bisa tau hal yang belum terjadi — ada dua kemungkinan: satu, dia bisa lihat masa depan. dua, dia yang menentukan apa yang akan terjadi.
perbedaan antara keduanya: di opsi satu, gua masih punya agency. di opsi dua, gua nggak tau apakah yang gua pikir sebagai keputusan gua — beneran keputusan gua.
Gua tutup laptop.
Sebelum tidur, gua kirim satu pesan ke Dira: "eh, soal yang tadi — apapun yang lo putusin, kayaknya lo udah tau jawabannya sebenernya."
Dira bales tiga menit kemudian.
Satu emoji. Tanda bintang kecil — ✦ — yang gua nggak tau artinya tapi yang keliatan seperti sesuatu yang dipilih dengan cukup sadar.
[ DIRA — END ]