06 — CORRUPT
Ide untuk nyoba aktifin interface secara manual datang dari logika yang sederhana:
Kalau interface adalah precursor, ada window di antara kemunculannya dan event berikutnya di mana sistem itu sedang aktif tapi belum eksekusi apapun. Dan kalau gua bisa masuk ke window itu dengan sengaja, mungkin gua bisa lihat lebih banyak dari yang biasanya dia tunjukkan.
Dari observasi yang udah gua kumpulkan, ada tiga kondisi yang selalu present waktu interface muncul: pertama, laptop dalam kondisi idle tapi layar menyala. Kedua, semua aplikasi sudah di-close sebelumnya. Ketiga, selalu malam, selalu antara jam sepuluh sampai tengah malam.
Malam pertama: nggak ada. Gua catat: attempt 1 — fail.
Malam kedua: nggak ada lagi. Tapi gua notice sesuatu kecil — sekitar jam sebelas, fan laptop gua naik sedikit. Berlangsung mungkin dua menit, lalu normal lagi.
Gua catat: attempt 2 — partial? fan activity jam 23.04, durasi ~2 menit. sistem aktif tapi nggak surface.
Malam ketiga: gua tambah satu variabel. Gua buka Event Viewer dan set filter biar gua bisa lihat real-time kalau ada entri baru.
Jam sebelas lewat dua puluh, entri itu muncul:
instance initialized.
Dan tiga menit kemudian, interface ada di layar gua.
Kali ini gua ada di sana waktu dia boot. Dan bukannya duduk pasif, gua coba ngomong duluan.
Di area bawah jendela ada satu baris yang keliatan kayak input field — kosong, ada cursor yang berkedip sangat subtle.
Gua klik ke sana. Cursor aktif.
Arvan diam sebentar di depan keyboard-nya.
Cursor itu ada. Dan cursor yang ada adalah undangan.
Dia ketik satu karakter: ?
Tanda tanya. Paling universal, paling minimal.
Enter.
Nggak ada yang terjadi selama hampir satu menit.
Lalu seluruh teks di interface bergerak — bukan scroll, tapi reorganisasi. Cluster-cluster berpindah dengan logika yang gua nggak tau apa. Berlangsung mungkin lima detik, lalu berhenti.
Formatnya kayak response. Kayak sistem yang lagi nge-return value setelah menerima input.
Gua ketik lagi: siapa lo?
Response-nya lebih cepat. Dan di tengahnya, seperti biasa, ada yang bocor:
⌇△◈▽ sama ▽◈⌇
Sama.
Sama dengan apa? Sama dengan siapa? Kata itu berdiri terlalu isolated untuk kasih konteks yang cukup — tapi pilihan katanya terlalu deliberate untuk gua ignore.
Gua ketik: sama dengan siapa?
Kali ini nggak ada response selama hampir tiga menit.
Lalu sesuatu terjadi yang nggak masuk dalam parameter apapun yang gua udah siapkan.
Interface glitch.
Bukan crash — bukan freeze. Seluruh teks di jendela untuk sepersekian detik menjadi sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang lebih raw, lebih seperti data yang belum dirender.
Gua nggak bisa baca raw data itu — terlalu cepat, terlalu dense. Tapi ada dua hal yang sempat gua tangkap:
Satu: di dalam raw data itu ada pola yang berulang. Angka dan huruf yang muncul terlalu cepat untuk dibaca, tapi cukup lama untuk gua bisa notice bahwa mereka berulang dengan cara yang terstruktur.
Dua: nama gua ada di sana.
Bukan dalam simbol asing. Nama gua — ARVAN — dalam huruf kapital latin biasa, muncul di dalam raw data itu, berulang, di posisi yang berbeda-beda, seperti variabel yang di-reference di banyak tempat dalam satu dokumen.
Arvan mundur dari meja.
Namanya ada di sana. Bukan sebagai teks biasa — sebagai variabel. Sebagai komponen dari sesuatu yang lebih besar.
Kamu bukan cerita di dalam sistem itu. Kamu adalah bagian dari sistemnya.
Interface force-close.
Event Viewer entri terakhir:
instance suspended. error: unauthorized access attempt.
Unauthorized access attempt.
Gua yang dianggap melakukan unauthorized access. Ke sistem yang ada di laptop gua sendiri. Yang muncul tanpa izin. Yang menulis di notes gua tanpa sepengetahuan gua.
Gua hampir ketawa kalau situasinya nggak cukup berat untuk membuat tawa terasa seperti respons yang salah.
Gua tulis semua yang baru terjadi dengan kecepatan yang gua bisa. Lalu gua baca ulang dari awal.
Satu kata yang terus balik: sama.
Gua tulis di kertas:
hipotesis: yang ada di interface ini bukan sesuatu yang asing. ini sesuatu yang kenal gua dari dalam karena dia adalah gua. versi lain. dari mana, dari kapan, bagaimana — belum tau. tapi "sama" bukan kebetulan pemilihan kata.
Gua lipat kertasnya dan taruh di bawah keyboard — tempat yang nggak gua pakai untuk nyimpen apapun sebelumnya.
Malamnya gua nggak bisa tidur dengan benar. Dalam kondisi antara terjaga dan tidur, pikiran gua pergi ke tempat yang siang harinya gua nggak akan izinkan.
Gua pikirin versi lain dari diri gua. Bukan sebagai konsep abstrak. Sebagai sesuatu yang nyata — yang desperate cukup untuk lakuin semua ini.
Desperate kenapa?
Mimpinya datang dengan cara yang nggak seperti mimpi biasanya. Terlalu konsisten, terlalu stabil.
Gua di kamar yang sama. Meja yang sama, monitor yang sama. Tapi layar monitornya menyala dengan satu kalimat, putih di atas hitam:
kamu bukan satu-satunya yang lelah.
Arvan terbangun jam 4.17 pagi.
Ada sesuatu yang dia notice yang sebelumnya dia lewati: semua catatan yang bukan tulisannya — entri yang muncul tanpa dia ingat nulis — semuanya muncul di jam-jam di mana dia harusnya tidur.
Tapi hanya pada malam-malam di mana dia tidur dengan sesuatu yang belum selesai di kepala. Pertanyaan yang belum terjawab.
Kayak sesuatu yang menunggu dia cukup diam untuk bisa masuk.
Gua tulis di notes, jam 4.23 pagi:
corrupt — bukan sistemnya. mungkin batasnya. gua nyoba masuk terlalu jauh terlalu cepat.
tapi gua lihat sesuatu yang nggak seharusnya gua lihat: nama gua sebagai variabel. bukan subjek. komponen.
pertanyaan baru: kalau gua adalah komponen — komponen dari apa?
Di luar jendela, Jakarta mulai menyalakan dirinya sendiri.
Gua nggak balik tidur. Gua duduk di tepi kasur dan nunggu hari cukup terang untuk mulai lagi.
[ CORRUPT — END ]