03 — KEBETULAN PERTAMA
Besoknya, interface itu nggak ada.
Gua nyalain monitor jam delapan pagi — lebih awal dari biasanya, karena gua nggak bisa tidur dengan kualitas yang layak. Desktop normal. Ikon-ikon di tempat yang seharusnya, grid rapi, pojok kanan bawah kosong. Gua cek folder screenshot — foto-foto hitam dari semalam masih ada, jadi bukan mimpi. Tapi selain itu nggak ada jejak.
Gua buka Task Manager, cek startup programs, cek registry, cek folder temp. Nggak ada yang aneh. Kayak malam sebelumnya nggak pernah terjadi, kecuali di notes gua dan di tiga lembar kertas dengan coretan simbol yang sekarang tergeletak di sudut meja.
Gua coba reverse-image search beberapa simbol yang paling distinctive. Hasilnya nggak ada yang cocok. Gua coba beberapa database aksara historis, beberapa forum linguistik, beberapa thread di Reddit yang khusus bahas undeciphered scripts. Nggak ada match.
Jam sepuluh gua berhenti. Dengan data yang ada sekarang, gua udah mentok. Butuh lebih banyak sample, atau butuh interface itu muncul lagi.
Gua catat di notes: interface hilang. nggak ada trace. lanjut observasi.
Siangnya, karena nggak ada yang lebih baik dilakukan, gua keluar.
Ini bukan hal yang sering gua lakuin. Bukan karena gua agoraphobic atau semacamnya — gua cuma nggak punya banyak alasan untuk keluar kalau semua yang gua butuhin ada di dalam kamar. Tapi hari itu ada sesuatu yang nggak comfortable di kamar, semacam tekanan yang nggak bisa gua identify.
Gua jalan kaki. Nggak ada tujuan spesifik — keluar gang, belok kanan, ikutin jalan yang lebih lebar ke arah minimarket dua blok dari kost. Rencana gua cuma beli air mineral dan mungkin duduk sebentar di taman kecil yang ada di seberang jalan sana.
Rencana itu sederhana dan sangat dalam kendali gua.
Yang terjadi selanjutnya, gua masih nggak sepenuhnya bisa jelaskan.
Di pertigaan sebelum minimarket, gua belok kiri.
Bukan karena ada yang menarik ke sana. Bukan karena gua ingat ada sesuatu di jalan itu. Gua belok kiri dengan cara yang sama kayak malam sebelumnya gua bikin kopi tanpa ingat melakukannya — keputusan yang tereksekusi sebelum bagian sadar gua sempat ikut andil.
Gua baru nyadar gua udah belok setelah lima langkah.
Gua berhenti. Lihat ke kanan — arah minimarket yang seharusnya gua tuju. Lihat ke kiri — jalan yang lebih sempit, ada warung kecil, ada tukang tambal ban, ada orang-orang yang duduk di depan rumah masing-masing.
Kenapa gua belok ke sini?
Nggak ada jawaban yang muncul. Tapi kaki gua nggak balik ke kanan.
Gua lanjut jalan ke kiri.
Warung kopinya kecil — empat meja plastik, kursi monobloc yang satu kakinya agak goyang, kipas angin dinding yang suaranya lebih keras dari musiknya. Gua nggak tau kenapa gua masuk ke sana. Gua bahkan nggak terlalu suka kopi siang hari.
Tapi gua duduk, pesan es teh, dan mulai scroll hp dengan cara yang nggak beneran baca apapun.
Sepuluh menit lewat.
Lalu seseorang menarik kursi di meja sebelah dan duduk, dan ketika gua reflek lihat ke arah suara — gua freeze selama sepersekian detik yang terasa jauh lebih panjang dari itu.
Dira Kuswardani.
Gua kenal dia dari dua tempat: satu mata kuliah pilihan semester enam yang sama-sama gua dan dia ambil, dan satu kepanitiaan event kampus dua tahun lalu di mana gua jadi divisi teknis dan dia jadi koordinator acara. Bukan teman dekat. Lebih ke familiar — tipe orang yang kamu kenal cukup untuk menyapa kalau papasan, tapi nggak cukup untuk tau kabarnya tanpa ditanya langsung.
Terakhir gua lihat dia mungkin setahun lalu, di lorong kampus dua minggu sebelum wisuda.
Dia duduk membelakangi gua, lihat ke hp-nya, belum notice gua ada di sana.
Arvan nggak langsung menyapa.
Dia perhatikan sebentar — bukan karena canggung, tapi karena ada sesuatu yang dia lagi proses. Kebetulan ini terlalu specific. Bukan ketemu orang yang dikenal di mal besar atau di stasiun yang ramai — ini warung kopi kecil di jalan sempit yang bahkan bukan rute yang dia rencanain, di hari biasa di tengah minggu, jam dua siang.
Variabelnya terlalu banyak yang harus aligned secara bersamaan untuk ini jadi pure coincidence.
Tapi itu juga exactly cara otak manusia overfitting pattern — nemuin koneksi yang nggak ada karena terlalu mau nemuin koneksi.
Kebetulan terjadi, dia remind dirinya sendiri. Itu namanya kebetulan.
"Arvan?"
Dira yang lihat duluan. Dia balik badan, ekspresinya surprise tapi nggak uncomfortable.
"Eh." Gua angkat tangan sedikit. "Dira."
"Ngapain di sini?" Dia geser kursinya sedikit ke arah meja gua.
"Jalan-jalan." Gua pause. "Lo?"
"Nunggu temen. Katanya bentar lagi." Dia lirik hp-nya. "Mungkin."
Ada beberapa detik keheningan yang nggak awkward tapi juga nggak comfortable — dua orang yang familiar tapi nggak cukup punya shared history untuk langsung tau harus mulai dari mana.
Ngobrolnya nggak panjang — mungkin lima belas menit sebelum temennya datang dan Dira pindah ke mejanya. Mostly small talk: soal teman-teman yang udah pada kerja di mana, soal Jakarta yang makin macet, soal satu dosen yang rupanya pensiun semester lalu.
Gua dengerin dan jawab dengan porsi yang wajar.
Tapi ada bagian kecil dari gua yang sedang melakukan hal yang berbeda — observe. Dan yang gua notice dari Dira adalah ini: dia keliatan okay. Ngomongnya lancar, senyumnya genuine, nggak ada yang secara obvious salah.
Tapi ada sesuatu di ritme bicaranya yang sangat halus — kayak seseorang yang udah berlatih kedengeran baik-baik saja sampai ke titik di mana latihan itu sendiri yang keliatan. Jeda yang satu milidetik terlalu panjang sebelum jawaban tertentu. Tawa yang technically di timing yang tepat tapi nggak fully reach matanya.
Gua nggak ngomong itu. Mungkin gua salah. Mungkin gua overfitting lagi.
Sebelum Dira balik ke mejanya, dia bilang satu hal yang casual:
"Eh, seneng deh ketemunya. Gua lagi butuh ketemu orang-orang lama, entah kenapa."
Gua senyum. "Sama-sama."
Dia balik ke temennya. Gua finish es teh gua. Lima menit kemudian gua bayar dan keluar.
Di jalan pulang, gua masuk kamar, taruh air mineral di meja, duduk.
Dan baru waktu gua buka laptop untuk lanjut kerja — gua lihat layar, dan gua berhenti.
Interface itu kembali.
Sama persis seperti malam sebelumnya: background hitam, teks putih, font monospace, nggak ada title bar. Simbol-simbol yang nggak bisa gua baca memenuhi dua pertiga layar.
Tapi kali ini ada yang berbeda.
Di baris paling bawah ada satu cluster di tengah baris itu yang bentuknya berbeda dari sekitarnya.
Gua ambil kertas coretan gua dari kemarin. Bandingkan.
Cluster itu — tiga simbol yang berdiri berdampingan — sama persis dengan simbol yang kemarin gua catat sebagai delimiter atau punctuation. Yang gua bilang selalu muncul di awal atau akhir cluster, nggak pernah di tengah.
Kali ini dia di tengah.
Arvan duduk diam, matanya bergerak antara kertas dan layar.
Posisi yang berubah. Bukan kemunculan simbol baru — simbol yang sama, tapi dipindahkan. Dalam bahasa pemrograman, itu bisa berarti banyak hal: perubahan konteks, perubahan fungsi, perubahan relasi antar elemen.
Atau dalam bahasa yang lebih sederhana: sesuatu yang tadi di luar, sekarang di dalam.
Sesuatu yang tadi jadi batas, sekarang jadi bagian dari isi.
Gua tulis di notes: interface kembali. simbol delimiter — posisi berubah, dari edge ke tengah cluster. korelasi dengan pertemuan Dira: belum bisa confirm, tapi timing mencurigakan.
Interface diam selama dua jam. Gua lakuin hal lain di laptop — di window yang berbeda, karena interface itu tetap nggak bisa di-close dan tetap nggak muncul di process list. Gua belajar hidup berdampingan dengan kehadirannya.
Jam delapan malam, gua lagi makan — nasi dari warung bawah, lauk telur dadar — ketika dari sudut mata gua lihat sesuatu berubah di layar.
Gua taruh sendok. Jalan ke meja.
Di baris paling bawah interface, ada satu baris baru.
Lagi-lagi bahasa Indonesia, huruf latin, terbaca jelas. Kali ini empat kata:
dia tidak boleh pergi
Gua nggak gerak.
Di kepala gua, satu koneksi terbentuk dengan cara yang nggak bisa gua ignore: pergi — kata pertama yang muncul semalam. Dan sekarang: dia tidak boleh pergi.
Dia.
Dia yang dimaksud adalah Dira.
Arvan mundur satu langkah.
Ini bukan lagi territory ARG. Ini sesuatu yang berbeda — sesuatu yang tau dia keluar hari ini, tau dia ketemu siapa, dan memilih untuk comment setelahnya.
Sesuatu yang mengikuti.
Atau sesuatu yang sudah tau dari awal bahwa dia akan ketemu Dira hari ini.
Gua balik ke meja makan. Duduk. Lihat ke nasi yang udah mulai dingin.
Di kepala gua ada dua suara yang lagi debat dengan nada yang sama-sama flat.
Suara pertama bilang: ini bisa dijelaskan. lo belum punya cukup data. jangan lompat ke kesimpulan.
Suara kedua bilang: lo belum punya cukup data karena lo belum cukup dalam. dan sesuatu di sana tau itu.
Gua makan sisa nasinya dalam diam.
Sebelum tidur, gua buka notes satu kali lagi dan tambahin satu baris:
pertanyaan yang perlu dijawab: apakah kebetulan itu kebetulan? apakah "dia" adalah Dira? kalau iya — siapa yang tau, dan bagaimana?
Layar laptop masih menyala dari meja — interface masih di sana, diam, empat kata itu masih terpampang di baris paling bawah.
Gua matiin lampunya tapi biarkan laptopnya menyala.
Kalau lo bisa lihat gua, gua bisa lihat lo balik.
Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan, gua tertidur bukan karena capek — tapi karena ada sesuatu yang cukup menarik untuk dihadapi besok.
[ KEBETULAN PERTAMA — END ]