01 — IDLE
Gua nggak ingat kapan terakhir kali sesuatu terasa penting.
Bukan dalam artian dramatis — gua nggak lagi krisis eksistensial atau semacamnya. Lebih ke... flat. Kayak volume yang dikecilkan pelan-pelan sampai kamu nggak sadar suaranya udah hilang. Sekarang gua cuma hidup dengan dengungan latar yang konstan: kipas angin, notifikasi, suara motor dari jalan bawah, dan layar yang nggak pernah benar-benar mati.
Hari ini sama kayak kemarin. Dan kemarin sama kayak dua minggu lalu.
Bangun jam sembilan lebih, kadang sepuluh. Bukan karena malas — lebih karena nggak ada yang cukup urgen untuk bikin mata terbuka lebih cepat. Gua duduk di tepi kasur, nunggu otak menyala, lalu pindah ke kursi meja. Rutinitas itu bukan kebiasaan yang disengaja. Dia cuma terbentuk sendiri dari pengulangan, kayak path di hutan yang muncul bukan karena ada yang merencanakannya, tapi karena terlalu banyak kaki yang lewat di titik yang sama.
Kost gua berukuran tiga kali empat meter. Ada kasur, ada lemari, ada meja dengan monitor dua puluh empat inci yang gua beli second enam bulan lalu. Sisanya adalah tumpukan barang yang belum punya tempat tetap — buku yang dibeli tapi nggak pernah selesai dibaca, kabel yang gua lupa fungsinya, satu gelas mug dengan noda kopi yang udah jadi permanent feature.
Di luar jendela ada tembok gedung sebelah berjarak dua meter. Kalau beruntung ada burung merpati yang nangkring di sana. Hari ini nggak ada.
Tujuh bulan setelah wisuda, dan gua masih di sini.
Bukan karena nggak ada opsi. Gua udah kirim lamaran — beberapa puluh, mungkin hampir seratus kalau dihitung dari awal. Beberapa dipanggil interview, beberapa sampai tahap akhir. Tapi setiap kali gua duduk di depan recruiter dan mereka tanya "kenapa lo tertarik bergabung?", ada sesuatu yang macet di tenggorokan. Bukan karena gugup. Tapi karena jawabannya jujurnya adalah: gua nggak terlalu tertarik. Gua cuma butuh sesuatu untuk dilakukan.
Kayaknya recruiter bisa merasakan itu, bahkan kalau gua nggak ngomongnya.
Jadi gua balik ke kost, buka laptop, dan ngisi waktu dengan hal-hal yang lebih jujur: forum cold case, ARG yang lagi berjalan di Reddit, puzzle-puzzle yang orang posting di Discord. Bukan karena gua suka yang seram atau aneh. Tapi karena di sana selalu ada struktur — sesuatu yang tersembunyi, tapi bisa ditemukan kalau kamu sabar dan cukup teliti. Dan nemuin struktur itu, sekecil apapun, adalah satu-satunya hal yang masih bisa bikin otak gua menyala dengan cara yang terasa berarti.
Gua nggak cerita ini ke siapapun. Orang-orang biasanya nggak ngerti, atau langsung khawatir dengan cara yang lebih melelahkan dari masalahnya sendiri.
Hari itu — hari yang belakangan gua tandai sebagai titik awal, meski waktu itu gua nggak tau — dimulai dengan cara yang sangat biasa.
Gua bangun. Pindah ke kursi. Buka browser.
Ada tiga tab yang masih terbuka dari semalam: satu forum ARG yang udah solved dua hari lalu tapi gua belum nutup, satu artikel soal bagaimana otak manusia membangun false memory, dan satu halaman dokumentasi Python yang gua buka entah untuk apa.
Gua tutup semua. Buka yang baru.
Sekitar jam sebelas, gua pesan nasi goreng dari warung bawah lewat chat WhatsApp si Pak Heri. Nunggu dua puluh menit, makan di meja sambil scrolling, taruh piring di lantai dekat pintu untuk nanti dibalikin. Jam dua belas kurang gua rebahan sebentar — bukan tidur, cuma mata yang butuh istirahat dari layar.
Di titik itu, semua masih normal.
Anomalinya kecil. Sangat kecil.
Gua lagi baca thread panjang di forum, salah satu diskusi soal kemungkinan bahwa realita yang kita alami adalah simulasi — bukan dalam artian filosofis yang serius, tapi lebih ke spekulasi santai yang kadang muncul di forum-forum internet. Gua nggak terlalu invested, cuma scroll karena kontennya cukup untuk ngisi waktu.
Di suatu titik, gua berhenti.
Bukan karena ada yang menarik di layar. Tapi karena gua nyadar gua lagi minum kopi — dan gua nggak ingat bikin kopi.
Gua lihat ke mug di tangan kanan. Setengah isi, masih hangat. Gua cium baunya: kopi sachet, campuran yang biasa gua pakai.
Gua putar balik memori sejam terakhir. Bangun dari rebahan. Duduk lagi di meja. Buka browser. Baca thread. Tapi di antara itu semua, nggak ada satu frame pun di mana gua berdiri, jalan ke sudut ruangan tempat dispenser dan mug ada, nuang air panas, aduk.
Gerakan itu harusnya makan waktu tiga sampai empat menit. Dan gua nggak punya memori tiga sampai empat menit itu.
Arvan duduk diam sebentar.
Dia lihat mug itu lagi. Lalu lihat ke sudut ruangan — dispenser menyala dengan lampu merah kecil yang normal, sendok kecil tergeletak di samping wadah gula. Ada tetesan kecil di permukaan dispenser, khas orang yang baru nuang air panas tapi kurang hati-hati.
Semua bukti menunjuk ke satu kesimpulan: dia yang bikin kopi itu.
Tapi dia nggak ingat.
Gua tulis di notes di hp: jam 12.14 — ada gap. bikin kopi, nggak ada memorinya. cek lagi nanti.
Bukan karena gua panik. Tapi karena itu yang gua lakukan kalau ada sesuatu yang nggak konsisten — catat dulu, lihat apakah polanya muncul lagi.
Kemungkinan paling logis: autopilot. Otak manusia sering melakukan hal-hal rutin tanpa benar-benar "merekamnya" ke memori sadar — terutama kalau kamu sedang terlalu fokus ke sesuatu yang lain. Ini fenomena yang dikenal, ada literaturnya, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Gua taruh hp, lanjut baca thread.
Tapi mug itu gua pegang sampai kopinya habis, dan gua nggak sepenuhnya bisa lanjut fokus seperti sebelumnya.
Malamnya, sebelum tidur, gua buka notes lagi.
Bukan untuk nulis sesuatu. Cuma baca ulang. Jam 12.14 — ada gap. bikin kopi, nggak ada memorinya. cek lagi nanti.
Gua scroll ke atas, lihat catatan-catatan lain dari hari-hari sebelumnya. Sebagian besar adalah hal-hal kecil — link yang mau gua revisit, ide yang tiba-tiba muncul, kutipan dari artikel yang gua anggap menarik.
Tapi ada satu catatan dari empat hari lalu yang gua nggak ingat nulis.
kemana? kenapa?
Dua kata. Tanpa konteks. Gua nggak ingat situasinya, nggak ingat apa yang gua maksud. Tulisannya bukan typo, bukan salah tap — hurufnya bener, tanda tanya ada di tempat yang tepat.
Gua stare ke layar cukup lama.
Lalu gua taruh hp, matiin lampu, dan tutup mata.
Autopilot, gua bilang ke diri sendiri. Orang lupa hal-hal kecil. Itu normal.
Dan gua percaya itu — atau setidaknya, gua cukup berhasil mensimulasikan kepercayaan itu sampai akhirnya tertidur.
Tapi ada bagian kecil dari otak gua yang tetap aktif, yang tidak bisa dimatikan semudah lampu kamar, yang terus mengulang pertanyaan yang sama dengan tenang dan tanpa emosi:
kalau bukan lo yang nulis itu — siapa?
[ IDLE — END ]