← KEMBALI KE DAFTAR CHAPTER
The Administrator Cycle #1 · Chapter 02

02 — ANOMALI

Tiga hari setelah kejadian kopi, gua nemuin dua gap lagi.

Bukan gap besar. Bukan kayak gua tiba-tiba bangun di tempat yang berbeda atau kehilangan beberapa jam. Lebih ke — gua lagi ngerjain sesuatu, dan ketika gua sadar lagi, ada hal kecil yang udah selesai tanpa gua ingat menyelesaikannya. Sekali waktu itu cucian yang tiba-tiba ada di ember, padahal gua nggak ingat ngumpulinnya. Sekali lagi itu jendela yang terbuka, padahal gua nggak ingat berdiri dan jalan ke sana.

Gua catat semua di notes.

Gap #2 — cucian. Gap #3 — jendela.

Polanya terlalu spesifik untuk murni autopilot. Tapi juga terlalu kecil untuk dibilang serius. Gua taruh di zona abu-abu — monitor tapi jangan panik — dan lanjut hidup.

Yang bikin gua lebih tenang: semua gap itu terjadi untuk hal-hal yang logis. Cucian memang perlu dikumpul. Jendela memang perlu dibuka karena kamar pengap. Otak gua mungkin cuma eksekusi keputusan yang udah dibuat setengah sadar, tanpa fully melibatkan bagian yang nyimpen memori.

Reasonable, gua pikir. Ada penjelasannya.

Jadi gua lanjut.


Malam itu gua lagi di tengah rabbit hole ARG baru — bukan yang punya komunitas besar, lebih ke sesuatu yang gua temuin sendiri dari satu thread kecil yang hampir nggak ada yang notice. Seseorang posting serangkaian gambar dengan metadata yang aneh: koordinat GPS yang mengarah ke lokasi yang nggak ada di Google Maps, timestamp yang nggak linear, dan satu file audio pendek yang kalau di-spectrogram-nya ada pola yang keliatan kayak karakter tapi nggak cocok sama alfabet manapun yang gua tau.

Gua udah ngabisin dua jam nyoba decode itu dan belum kemana-mana. Tapi justru itu yang bikin gua betah — ada sesuatu di sana, gua bisa merasakannya, dan gua belum nemuin struktur di baliknya.

Jam sebelas kurang, gua minimize semua window untuk buka folder baru — mau bikin workspace bersih untuk nyimpen progress decode-nya.

Dan di situlah gua pertama kali lihat itu.


Di antara ikon-ikon di desktop, ada satu yang nggak ada sebelumnya.

Bukan shortcut aplikasi biasa. Nggak ada label. Ikonnya hitam solid — bukan hitam karena error atau file corrupt, tapi hitam dengan cara yang terlalu intentional, kayak seseorang memilih warna itu dengan tujuan. Ukurannya sama dengan ikon lain, posisinya di pojok kanan bawah, persis di luar grid yang gua pakai untuk ngatur desktop.

Gua klik sekali. Nggak ada label yang muncul di taskbar bawah. Klik kanan — menu konteks muncul normal: Open, Open with, Cut, Copy, Delete, Properties.

Gua buka Properties.

File name: kosong. File type: kosong. File size: 0 bytes. Date created: —

Kolom date created kosong. Bukan nol, bukan unknown. Kosong. Kayak field itu nggak pernah diisi.


Arvan duduk lebih tegak.

Ini beda dari gap-gap sebelumnya. Gap bisa dijelaskan dengan autopilot, dengan lupa, dengan otak yang terlalu capek. Tapi file tanpa metadata nggak bisa dijelaskan dengan cara yang sama. File selalu punya jejak — kapan dibuat, dari mana asalnya, siapa yang punya akses. Ketidakhadiran informasi itu bukan hal yang terjadi secara kebetulan.

Dia double-click.


Layar nggak freeze. Nggak ada loading. Tapi dalam sepersekian detik, semua window yang terbuka — browser, folder, music player yang muter di background — semuanya hilang.

Bukan crash. Taskbar masih ada. Jam masih berjalan. Tapi semua aplikasi yang tadi terbuka sekarang kosong dari taskbar, kayak di-minimize ke tempat yang nggak ada.

Yang muncul di tengah layar: sebuah jendela.

Tampilannya minimalis sampai ke titik yang nggak nyaman — background hitam, teks putih, font monospace, nggak ada title bar, nggak ada tombol close atau minimize. Lebar jendela sekitar separuh layar, tingginya mungkin sepertiga. Di bagian atas ada satu baris yang gua translate dalam kepala sebagai "header" meskipun gua nggak bisa baca isinya.

Karena isinya bukan teks yang gua kenal.


Gua pernah lihat berbagai macam bahasa pemrograman. Python, C, Java, Assembly, bahkan beberapa esoteric language yang dibuat orang iseng — Brainfuck, Whitespace, Malbolge. Gua juga pernah lihat beberapa bahasa alami yang aksaranya jauh dari latin: Arab, Mandarin, Thai, Devanagari.

Ini bukan salah satunya. Dan ini bukan campuran dari keduanya.

Karakternya punya logika internal — gua bisa merasakannya seperti cara kamu bisa merasakan bahwa sebuah melodi punya struktur meskipun kamu nggak tau key-nya. Ada yang berulang. Ada hierarki yang samar antara simbol-simbol tertentu dengan simbol lain yang keliatan subordinat. Ada spacing yang terlalu konsisten untuk jadi random.

Tapi kalau gua coba fokus ke satu karakter dan nyoba decode maknanya — nggak ada yang nyangkut. Otak gua nggak punya referensi. Kayak mencoba membaca dalam kegelapan total.

Gua screenshot. Gua screenshot lagi. Gua screenshot tiga kali karena refleks.

Lalu gua buka folder screenshots — dan foto-fotonya ada, timestampnya benar, tapi isinya hitam solid. Bukan gambar dari layar yang tertangkap. Hitam saja.


Okay, gua pikir. Ini bukan bug biasa.

Gua coba Alt+F4. Nggak ada respons. Coba Ctrl+Alt+Delete — Task Manager muncul di atas jendela itu, tapi jendela tetap ada di belakangnya, nggak terminate, nggak ada di list processes. Gua scroll seluruh list dua kali. Nggak ada entri yang unfamiliar, nggak ada process yang memory usage-nya aneh.

Jendela itu, menurut sistem operasi, secara teknis nggak ada.

Gua duduk diam cukup lama, nonton layar.

Di dalam jendela, teks itu diam. Nggak bergerak, nggak berkedip, nggak ada cursor yang berjalan. Tapi ada sesuatu di cara teks itu lay out yang bikin gua nggak bisa lepas perhatian — ada satu simbol di baris ketiga dari atas yang kemunculannya lebih sering dari yang lain, dan posisinya selalu di awal atau akhir cluster, nggak pernah di tengah.

Delimiter, gua pikir. Atau mungkin punctuation.

Gua ambil selembar kertas dan mulai nulis ulang simbol-simbol yang bisa gua ingat. Bukan semuanya — terlalu banyak dan terlalu kompleks untuk direproduksi manual dengan akurasi — tapi cukup untuk punya sample yang bisa gua analisis offline kalau jendela itu tiba-tiba hilang.


Tiga puluh menit gua catat. Tiga puluh menit layar itu diam.

Lalu sesuatu berubah.

Bukan di seluruh teks — hanya di baris paling bawah. Yang sebelumnya kosong. Sekarang ada tiga karakter baru yang muncul, satu per satu, dengan jeda sekitar dua detik di antara masing-masing — seperti seseorang yang sedang mengetik dari ujung lain.

Gua freeze.

Tiga karakter itu bukan dalam sistem simbol yang sama dengan teks di atasnya. Gua bisa langsung tau karena bentuknya berbeda secara fundamental — lebih sederhana, lebih angular, dan ada sesuatu yang familiar meskipun gua nggak bisa langsung identify kenapa.

Gua condongkan badan ke depan.

Dan baru setelah beberapa detik menatap, gua sadar.

Itu bukan simbol asing. Itu huruf. Huruf latin. Tiga huruf yang membentuk satu kata.

pergi

Gua nggak bergerak selama mungkin satu menit penuh.

Kata itu diam di sana, di baris paling bawah jendela, terlihat sangat out of place di antara semua simbol yang nggak bisa gua baca — seperti seseorang yang tiba-tiba berbicara dalam bahasa yang kamu mengerti di tengah percakapan yang seluruhnya dalam bahasa yang tidak kamu kenal.

Atau seperti seseorang yang hampir lupa cara bicara, dan baru ingat di momen terakhir.


Arvan berdiri dari kursinya. Jalan dua langkah ke belakang, pandangan tetap ke layar.

Kata itu masih di sana.

Dia pikir: ini bisa jadi bagian dari ARG yang lagi dia track. Bisa jadi seseorang di thread yang sama sudah lebih dulu solve puzzle-nya dan ini adalah langkah selanjutnya. Dia pernah lihat ARG yang lebih elaborate dari ini.

Tapi ada dua hal yang nggak cocok dengan hipotesis itu.

Satu: ARG itu baru gua temuin hari ini. Belum ada interaksi dengan siapapun. Nggak ada yang tau gua involved.

Dua: program ini nggak ada di process list. ARG paling elaborate sekalipun tetap butuh proses yang bisa dideteksi sistem operasi.


Gua jalan kembali ke kursi dan duduk.

Di layar, kata pergi masih ada. Nggak ada tambahan. Nggak ada instruksi lain.

Gua nulis di notes: 11.47 malam. Interface asing di desktop. Teks unreadable, satu kata Indonesia: "pergi". Nggak ada di process list. Screenshot nggak capture. Butuh observasi lebih lanjut.

Lalu gua lihat ke jendela itu satu kali lagi.

Dan gua matiin monitor.


Bukan karena takut. Gua nggak yakin gua bisa takut dengan cara yang normal lagi.

Tapi karena kata itu — pergi — dan cara kemunculannya yang terlalu deliberate, terlalu timed, terlalu seperti seseorang yang memilih kata dengan sangat hati-hati di antara semua kata yang mungkin —

Ada sesuatu di sana yang gua belum punya framework untuk memahaminya.

Dan pertama kali sejak lama, gua ngerasa sesuatu yang samar di dada — bukan takut, bukan excited. Sesuatu di antara keduanya yang gua nggak punya nama pastinya.

Gua rebahan di kasur, mata terbuka ke plafon.

Besok, gua pikir. Gua lihat lagi besok.

Tapi sebelum tidur, gua nulis satu hal lagi di notes.

kalau ini bukan bug dan bukan ARG — berarti ada yang tau gua di sini.

[ ANOMALI — END ]