09 — DIALOG
Gua persiapkan diri untuk percakapan itu selama dua hari.
Gua duduk dengan semua pertanyaan yang udah gua kumpulkan dan sortir: mana yang paling penting, mana yang bisa gua tunda.
Gua pilih tiga. Gua tulis ketiganya di kertas:
Satu: siapa lo sebenarnya — bukan dalam artian filosofis, tapi secara konkret. dari mana, sejak kapan, bagaimana.
Dua: apa yang sebenernya terjadi sama Dira di tempat lo. bukan fragmen. sepenuhnya.
Tiga: lo bilang gua belum siap. kapan gua siap, dan siap untuk apa.
Gua lipat kertasnya. Taruh di sebelah keyboard. Lalu gua tunggu malam.
Interface muncul jam sepuluh lewat tiga belas. Event Viewer: instance initialized. 22.11.
Gua duduk di depan layar dan nggak langsung ketik apapun. Ada sesuatu yang berbeda malam ini — di gua. Gua duduk bukan sebagai seseorang yang sedang mengamati sesuatu yang asing. Tapi sebagai seseorang yang tau apa yang dia hadapi, dan tetap memilih untuk duduk di sini.
Gua mulai ketik:
gua mau ngobrol. beneran. bukan gua nanya dan lo kasih satu kata.
Jeda. Lalu satu baris muncul — full bahasa Indonesia:
apa yang mau lo tau.
Bukan pertanyaan. Lebih ke pembukaan — pintu yang dibuka dengan cara yang minimal.
siapa lo sebenarnya. dari mana, sejak kapan, bagaimana.
Teks mulai muncul, pelan, per fragmen:
gua adalah lo.
dari instance yang berbeda. lo tau apa itu instance — lo udah sampai ke sana sendiri.
sejak kapan — gua nggak hitung lagi. lama. cukup lama untuk cara gua ngukur waktu jadi berbeda dari cara lo ngukurnya.
bagaimana — pertanyaan itu lebih kompleks dari yang bisa gua jawab malam ini. sistem yang gua pakai bukan sesuatu yang ada di dunia lo.
lo bilang instance yang berbeda. artinya ada banyak. lo tau berapa banyak?
ya.
berapa?
Jeda panjang. Sangat panjang.
cukup banyak untuk gua berhenti hitung.
Gua diam di depan layar. Cukup banyak untuk berhenti hitung. Artinya bukan puluhan. Artinya mungkin jauh lebih dari itu.
Gua lanjut ke pertanyaan kedua.
apa yang terjadi sama Dira di tempat lo. sepenuhnya.
Jeda yang lebih panjang dari semua jeda sebelumnya. Gua tunggu. Nggak gerak.
Lalu teks muncul — lebih panjang dari semua response sebelumnya:
dira di instance gua mutusin nggak nerima tawaran itu.
bukan karena nggak mau. karena ada yang terjadi sebelum dia sempat mutusin.
dia pergi dari jakarta. bukan karena mau. karena nggak ada alasan yang cukup kuat untuk tetap.
dan sesudahnya — efeknya bukan cuma ke dia. efeknya ke sesuatu yang lebih besar yang gua baru ngerti belakangan.
makanya gua nggak cerita sepenuhnya. bukan karena gua nggak mau. karena urutan penting.
Urutan penting.
sesuatu yang lebih besar — lo mau bilang Dira cuma bagian pertama. ada lebih banyak yang akan terjadi.
ya.
dan lo nggak akan bilang apa.
belum.
kenapa lo percaya gua akan lakuin hal yang benar kalau lo nggak kasih gua informasi yang cukup?
karena gua adalah lo. gua tau cara lo mikir. gua tau kalau lo tau semuanya sekarang, lo akan coba optimize semua variabel sekaligus. dan itu yang selalu bikin semuanya collapse.
gua udah lihat itu terjadi. lebih dari sekali.
Arvan diam lama di depan layar.
Cara dia mendeskripsikan cara pikir Arvan — optimize semua variabel sekaligus — itu bukan deskripsi dari luar. Itu deskripsi dari dalam. Dari seseorang yang tau karena dia pernah melakukan hal yang sama.
Gua ketik pertanyaan ketiga:
lo bilang gua belum siap. kapan gua siap. dan siap untuk apa.
Response-nya datang lebih cepat dari yang gua expect:
lo siap waktu lo bisa lakuin sesuatu tanpa perlu tau semua alasannya terlebih dahulu.
itu bukan jawaban yang konkret.
gua tau.
lo sengaja.
ya.
Ada sesuatu yang gua mau bilang yang bukan pertanyaan. Sesuatu yang gua tahan karena gua nggak yakin ini adalah hal yang tepat untuk diucapkan ke sesuatu yang secara teknis adalah diri gua sendiri.
Tapi gua ketik juga akhirnya:
lo lakuin semua ini — semua instance, semua manipulasi kecil, semua malam yang panjang di sisi sana — lo lakuin itu karena lo genuinely pikir itu satu-satunya cara. bukan karena lo enjoy-nya.
ada bedanya.
Jeda yang sangat lama.
Response datang — satu blok, sekaligus, dengan cara yang keluar bukan karena diizinkan tapi karena udah terlalu lama ditahan:
gua nggak punya pilihan lain yang gua tau cara lakukannya. gua udah coba yang lain. semuanya nggak cukup. dan ada titik di mana lo berhenti nanya apakah cara yang lo lakuin adalah cara yang benar dan mulai cuma nanya apakah cara yang lo lakuin masih bisa jalan.
gua masih di titik itu.
dan jujurnya — gua nggak tau kapan gua keluar dari sana. atau apakah gua bisa.
Gua baca itu tiga kali.
Lalu gua tutup mata sebentar. Di balik kelopak mata yang tutup, gua pikirin kalimat itu — bukan dianalisis, bukan dicari pattern-nya. Cuma dirasakan.
Sesuatu yang adalah diri gua sendiri, dari suatu tempat yang jauh, sedang sangat lelah.
Gua kenal rasanya itu. Tujuh bulan nganggur. Ratusan lamaran. Nggak ada yang terasa worth it.
Gua tau struktur itu dari dalam.
Gua buka mata. Ketik:
gua nggak bisa bantu lo keluar dari sana. gua bahkan nggak tau caranya. tapi gua bisa lakuin apa yang lo minta — bukan karena lo yang minta, tapi karena gua pilih itu.
ada bedanya.
Jeda.
Lalu satu kalimat, pendek — ditulis dengan cara yang terasa seperti sesuatu yang sangat penting bagi seseorang yang selama ini menulis seperti sistem dan bukan manusia:
gua tau bedanya.
Percakapan itu diam setelah itu — diam yang natural, setelah dua orang bilang apa yang perlu dikatakan.
Jam di monitor: 01.33.
Hampir tiga jam. Percakapan terpanjang yang pernah gua punya — dengan siapapun, dalam format apapun.
Sebelum gua mundur dari meja, satu baris terakhir muncul di interface — bukan di baris response biasanya, di bagian tengah jendela, seperti sesuatu yang selalu ada di sana dan baru sekarang diizinkan untuk terlihat:
langkah berikutnya datang sendiri. lo akan tau waktu lo lihat.
Gua ketik satu kalimat terakhir:
lo baik-baik aja di sana?
Interface diam sangat lama. Cukup lama untuk gua nyadar gua lagi nahan napas tanpa sadar.
Lalu satu kata. Terakhir untuk malam itu:
cukup.
Gua tutup input field. Matiin monitor.
Kamar jadi gelap. Kipas angin berputar. Di luar jendela Jakarta masih menyala dengan cara Jakarta selalu menyala — nggak pernah benar-benar mati, nggak pernah benar-benar tenang.
Gua rebahan dengan mata terbuka.
Tapi untuk sekarang, gua biarkan semuanya diam.
Karena ada hal-hal yang butuh ruang sebelum bisa diproses. Dan gua baru belajar bahwa menunda bukan selalu penghindaran.
Kadang menunda adalah cara paling jujur untuk menghormati berat dari sesuatu.
[ DIALOG — END ]