10 — INSTANCE
Hidup gua lanjut.
Itu yang paling aneh dari semuanya — bukan interface-nya, bukan percakapan tiga jam dengan diri gua sendiri dari dimensi lain. Yang paling aneh adalah bahwa sesudah semua itu, hari tetap datang dengan cara hari selalu datang. Matahari lewat jendela, suara motor dari bawah, Pak Heri masih terima pesanan nasi goreng lewat WhatsApp.
Dunia nggak tau apa yang terjadi di kamar tiga kali empat meter ini.
Dan mungkin memang nggak perlu tau.
Dua minggu pertama setelah dialog, interface lebih sering diam dari sebelumnya.
Bukan hilang — gua masih lihat Event Viewer log instance initialized beberapa kali seminggu. Tapi pesannya minimal. Kadang nggak ada sama sekali — interface muncul, diam selama beberapa jam, lalu pergi.
Gua pikir awalnya itu berarti sesuatu yang salah.
Tapi lama-lama gua ngerti: ini bukan kerusakan. Ini ritme yang berbeda. Kayak dua orang yang udah lewati percakapan berat dan sekarang bisa duduk bersama tanpa harus terus ngisi keheningan.
Gua biarkan.
Dira hubungi gua seminggu setelah dialog — update soal studio.
"Gila ya," dia tulis, "rasanya beda banget dari freelance sendirian. Capek tapi capek yang beda."
Gua balas: "capek yang punya arah."
Dia kirim emoji bintang kecil lagi — ✦ — dan gua simpan screenshot percakapan itu di folder yang sama dengan foto-foto hitam dari malam pertama interface muncul.
Bukan karena sentimental. Lebih karena ada sesuatu yang terasa penting tentang mendokumentasikan titik-titik di mana sesuatu yang harusnya nggak terjadi, terjadi dengan benar.
Gua juga mulai ngerjain hal-hal yang sebelumnya gua tunda.
Bukan karena tiba-tiba termotivasi. Lebih karena setelah semua yang terjadi, alasan gua untuk nggak ngerjain hal-hal itu terasa lebih kecil. Kalau versi lain dari gua bisa jalankan sistem lintas dimensi sendirian selama waktu yang dia sendiri nggak hitung lagi, gua mungkin bisa kirim beberapa lamaran dengan lebih genuine dari sebelumnya.
Satu bulan setelah dialog, gua duduk di depan interface yang muncul seperti biasa.
Kali ini ada sesuatu di baris tengah jendela yang berbeda. Bukan pesan baru — sesuatu di dalam teks utama, di cluster yang udah gua hafal posisinya, yang sedikit bergeser dari layout yang biasanya.
Ada cluster baru di kuadran kiri bawah yang sebelumnya nggak ada. Dan di antara keempatnya, satu simbol yang gua tau — penanda awal dari sesuatu.
Langkah berikutnya datang sendiri. Lo akan tau waktu lo lihat.
Arvan duduk diam di depan layar itu cukup lama.
Dia nggak analisis cluster itu malam itu. Nggak buka spreadsheet, nggak ambil kertas.
Dia cuma lihat.
Ada sesuatu yang dia pelajari selama beberapa minggu terakhir: ada bedanya antara siap karena lo udah kumpulkan semua data yang mungkin, dan siap karena lo udah berdamai dengan fakta bahwa lo nggak akan pernah punya semua data yang mungkin.
Dia belum sepenuhnya ada di titik kedua.
Tapi dia lebih dekat dari sebelumnya.
Gua tutup input field tanpa ketik apapun malam itu.
Cluster itu akan masih ada besok. Dan gua akan mulai decode-nya waktu gua siap — bukan waktu gua anxious, tapi waktu gua pilih untuk.
Tiga minggu kemudian, Dira kirim pesan panjang soal project pertama studio yang baru selesai. Di akhir pesannya:
"Beneran deh Van, kadang gua mikir — kalau gua nggak mutusin waktu itu, entah gua sekarang lagi di mana."
Gua ketik balas: "di tempat yang lebih susah keluar dari sana, kayaknya."
Tapi kalimat itu tinggal di kepala gua lebih lama dari yang gua rencanakan.
Entah gua sekarang lagi di mana.
Di suatu tempat ada versi Dira yang nggak pernah nerima tawaran itu. Yang pergi dari Jakarta tanpa alasan yang cukup kuat untuk tetap. Yang ketidakhadirannya di satu titik kecil menyebabkan sesuatu yang lebih besar collapse.
Dira di sini nggak tau itu. Dan gua nggak akan cerita.
Tapi gua tau. Dan ada sesuatu yang berat sekaligus aneh tentang menyimpan pengetahuan itu — bukan sebagai beban, lebih sebagai sesuatu yang kamu taruh di saku dan sesekali kamu pegang bukan untuk dikeluarkan tapi cuma untuk memastikan masih ada di sana.
Dua bulan setelah dialog.
Interface masih datang — lebih jarang, tapi masih ada. Cluster baru sudah mulai gua decode pelan-pelan, tanpa terburu-buru.
Spreadsheet masih terbuka di laptop. Tapi gua nggak update sesering dulu.
Kertas-kertas coretan masih di meja. Dua lembar lipatan masih di bawah keyboard — hipotesis pertama, dan lo nggak sendirian yang nggak pernah bisa dibaca tapi tetap gua biarkan ada di sana.
Malam itu — malam yang gua tandai di kepala sebagai malam terakhir dari sesuatu — interface muncul seperti biasa.
Tapi baris response, yang biasanya kosong sampai gua ketik sesuatu, sudah ada isinya. Menunggu.
Gua duduk. Baca.
ada yang akan datang. bukan sekarang. tapi dalam waktu yang cukup dekat untuk gua kasih tau sekarang. lo nggak harus lakuin apapun hari ini. tapi mulai perhatiin orang-orang di sekitar lo — bukan Dira. yang lain. lo akan tau siapa waktu lo lihat.
lo akan kasih tau lebih banyak waktu waktunya?
ya.
gua percaya lo.
gua tau.
Gua tutup input field. Duduk mundur di kursi.
Lalu gua buka notes di hp. Scroll ke atas — ke entri pertama, dari hari pertama. Dan gua baca dari sana sampai ke bawah, semua catatan, semua log, semua hipotesis yang udah memenuhi ratusan entri.
Butuh hampir satu jam.
Ada sesuatu yang gua mau tanyakan sejak lama. Pertanyaan yang selalu gua tahan karena selalu ada pertanyaan lain yang lebih mendesak.
Tapi malam ini nggak ada.
Gua ketik:
satu pertanyaan terakhir.
tanya.
Gua tarik napas. Lalu gua ketik:
berapa banyak.
Interface diam.
Lama sekali.
Lebih lama dari jeda manapun yang pernah terjadi sebelumnya.
Kipas angin berputar. Di luar jendela Jakarta menyala seperti biasa. Jam di monitor: 23.58.
Gua tunggu.
Lalu angka itu muncul.
Satu angka. Tanpa konteks, tanpa kualifikasi, tanpa penjelasan apapun di sekitarnya. Hanya angka itu, putih di atas hitam.
Gua baca angka itu.
Gua baca sekali lagi.
Gua tutup laptop.
Bukan dengan dramatis. Gua tutup dengan cara yang sama seperti gua tutup laptop setiap malam: dua tangan, pelan, sampai terdengar klik kecil dari engselnya.
Kamar jadi gelap.
Gua duduk di tepi kasur dengan kedua tangan di lutut dan pikiran yang sedang melakukan sesuatu yang bukan analisis dan bukan proses — sesuatu yang lebih sederhana dan lebih berat dari keduanya.
Angka itu tinggal di kepala gua dengan cara sesuatu yang kamu tau akan tinggal lama.
Di suatu tempat — di banyak tempat, rupanya, lebih banyak dari yang gua siapkan untuk bayangkan — ada versi lain dari gua yang sedang menjalani harinya. Beberapa mungkin lagi duduk di depan monitor dengan interface yang sama. Beberapa mungkin lagi tidur tanpa tau ada yang mengawasi. Beberapa mungkin sudah di titik yang membuat versi lain dari gua yang membangun semua sistem ini merasa bahwa dia perlu membangun semua sistem ini.
Dan satu — satu yang ada di sini, di kamar tiga kali empat meter ini, di Jakarta yang nggak pernah benar-benar sunyi — masih duduk di tepi kasur dengan angka yang dia nggak akan tulis di mana pun.
Karena ada hal-hal yang cukup untuk ada di kepala tanpa perlu dijadikan data.
Gua rebahan.
Mata terbuka ke plafon yang gelap.
Langkah berikutnya datang sendiri. Lo akan tau waktu lo lihat.
Gua nggak tau apa langkah berikutnya. Gua nggak tau siapa yang harus gua perhatiin, atau kejadian apa yang akan datang.
Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama — lebih lama dari tujuh bulan, lebih lama dari gua mau admit ke diri sendiri — ketidaktahuan itu nggak terasa seperti kekosongan.
Terasa seperti ruang.
Jam 00.23, gua ambil hp satu kali terakhir.
Buka notes. Scroll ke bawah, ke halaman kosong setelah semua catatan.
Gua tulis satu kalimat. Bukan untuk dianalisis, bukan untuk jadi bukti apapun. Cuma untuk ditulis.
gua nggak tau apa yang akan datang. tapi gua di sini. dan kali ini, gua pilih itu.
Gua simpan. Taruh hp di meja menghadap bawah.
Tutup mata.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai — sejak gap kopi pertama, sejak pergi di baris bawah interface, sejak belok ke jalan yang salah dan ketemu seseorang yang ternyata perlu ditemui — gua nggak tidur karena lelah atau karena nggak ada pilihan lain.
Gua tidur karena gua memilih untuk.
Dan di suatu tempat yang nggak punya peta ke sana, sesuatu yang adalah diri gua sendiri mungkin merasakan itu — dengan cara yang nggak bisa gua verify dan nggak perlu gua verify.
Cukup bahwa gua melakukannya.
Cukup bahwa gua di sini.
[ INSTANCE — END ]
TAMAT
— INSTANCE: The Administrator Cycle #1 —